Akibat Dari Mengetahui Dan Berbagi Kalimat Inspiratif

Sebagian besar orang begitu banyak menghafal dan mendalami kalimat-kalimat inspiratif mulai dari tokoh nasional sampai dunia yang memiliki kegunaan bagi dirinya karena demikian bercahaya makna dibalik kalimat itu. Kebalikan dari aku dari perumpamaan diatas yang mampu dikatakan tidak banyak menghafal kalimat inspirator, namun ada sebagian yang secara pribadi menggugah saya untuk mengingatnya sebagai berikut:

"Pemuda berusahalah membuat sejarah dan yang bau tanah tulislah sejarah hidupmu biar orang di lalu hari nanti bisa membaca dan mengetahui engkau pernah hidup dahulu" (Ust. Abdul Somad)

Sebuah kalimat yang di sampaikan oleh Ustad Abdul Somad dalam sebuah peluang ceramahnya pada suatu majelis masjid. Bagi sebagian orang mungkin ini hanyalah kalimat biasa namun tidak bagi aku kalimat diatas begitu bermakna hingga mendorong kesadaran sebagai cowok untuk melakukan sejarah sekurang-kurangnyasesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak dan juga bagi seorang cowok yang telah tentu memasuki usia senja nanti, kita mesti berusaha untuk sebisa mungkin untuk menulis suatu karangan apapun demi generasi akan tiba,

Terlebih kepada yang telah termasuk usia senja demi mengisi waktu luang dalam aktifitas keseharian seyogyanya menorehkan dongeng hidup yang ia lewati alasannya mungkin mampu bermanfaat bagi orang lain.

Adapun kalimat filosofis lain yang sering aku jadikan referensi dalam mengetahui atau memperdalam sesuatu adalah sebagai berikut.

"Jika ingin mengenal dunia maka membacalah dan kalau ingin dikenal dunia maka menulislah" kata bijak

Mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali: "Kalau kau bukan anak ulama besar, bukan pula anak seorang raja, maka menulislah". Menulis, pasti siapa saja arif dalam menulis tetapi bukan cuma sekedar menulis status di Media Sosial mirip dominan sekarang, yang dimaksud yakni menulis sesuatu yang bisa dirasakan pada umumnya orang karena pemanfaatannya yang berkesenambungan hingga dirasakan beberapa generasi akan tiba.

Hasil dari orang yang kiat menulis yaitu kita kini mampu mengenal Muhammad Saw dan Para nabi atau kita bisa mengenal Imam empat Mazhab besar dunia dan mengenal filsuf Thales, Plato, Aristotels, Socrates, Rene Descartes dan lain-lain.

Disisi lain yang tidak kalah urgen yakni membaca, pasti membaca menenteng kita melalui proses mendapati wawasan tanpa memerlukan pengalaman, kita mampu mengetahui bahwa di negara inggris memakai sistem Parlementer dan di Korea Utara memakai tata cara Komunis tanpa pernah pergi inggris dan korut. Ataupun dengan membaca kita mampu mengenal sosok fenomenal dalam dunia islam. Nabi Muhammad SAW dan para nabi lainnya ataupun dalam dunia filsafat kita dapat mengenal Thales dan kawan-mitra filsuf tanpa kita sekalipun berkenalan langsung dengan mereka.

Membaca, menulis. Tentu adalah proses yang susah dilaksanakan alasannya terbilang tidak semua manusia menyukainya ditambah proses melawan dunia sekarang yang terbilang instan dan menulis memerlukan semangat pengetahuan yang diolah dalam logika anggapan yang menghasilkan bahan di dasari dengan membaca bacaan apapun yang pasti menciptakan sebagian merasa kewalahan sebab bukan cuma menulis tetapi mesti juga dibarengi membaca, tetapi semua akan terjawab bila mau berupaya alasannya adalah dalam diri insan salah satu potensinya ialah melawan.

Salam dumia hitam elok

Penulis: Awin Buton
Sumber https://www.atobasahona.com/

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama