Makhluk Astral atau makhluk halus yaitu makhluk ciptaan Tuhan yang tidak mampu dilihat dengan indera manusia kecuali orang-orang yang diberi keunggulan oleh Tuhan dengan indera keenam. Disebut juga mahkluk gaib karena arti dari gaib itu sendiri adalah sesuatu yang tidak terlihat .
Saya termasuk orang yang mampu dibilang sangat takut dengan mahkluk halus ini pada zaman masih sekolah. Sering tertawa sendiri mengenang kisah konyol waktu itu, salah satunya takut tidur bila lampu kamar dimatikan malah yang sungguh konyol lagi minta diantar ibu jikalau mau ke kamar mandi, si Ibu nunggu di luar dan aku di dalam.
Sering tertawa sendiri dikala mengenang insiden yang konyol itu haha. Keberanian kepada makhluk halus mulai ada saat merantau di negeri orang. Namun hal itu juga belum seberapa, kadang-kadang masih takutnya juga. Entah kenapa dikala itu aku menjadi takut, mungkin pada umumnya nonton film horor.
Pada tahun 2014, saya mengambil perumahan kredit. Namanya perumahan, umumnya dibangun pada areal yang jauh dari perkampungan atau pemukiman warga masyarakat lokal. Lokasi yang baru dibuka untuk pembangunan perumahan yang kadang juga memilik histori yang seram.
Kisah pertama masuk rumah
Biasanya menurut etika orang Islam, berdoa dahulu sebelum masuk rumah baru. Benar memang, cuma saja waktu itu saya sendiri masih belum berkeluarga, tambah lagi kelurga besar aku jauh di kampung halaman.
Jadi saya mengambil keputusan untuk berdoa sendiri saja, toh bagi aku sama saja kok doanya, biarlah Tuhan yang menilai.
Pada malam pertama berada di rumah yang masih banyak semak-semak di sampingnya itu, suasana terasa sedikit angker. Blok rumah aku masih banyak rumah yang belum berpenghuni.
Saya yang masih sibuk di depan laptop sampai pukul 02.00 WITA. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu sempurna pukul 03.00, aku bergegas keluar dan membuka pintu.
"kok tidak ada orang !" berkata dalam hati dengan sedikit merinding.
Saya kembali masuk dan melanjutkan acara di depan laptop malam itu.
"Tok,tok " bunyi ketukan pindu terdengar lagi, sebetulnya aku sudah mulai merasa cemas namun berupaya mengsugesti diri sendiri untuk berani.
Entah apa yang aku rasakan malam itu, sukar untuk diterjemahkan. Takut, kesal, sendirian dan sedikit marah. Keluar lagi dan membuka pintu, masih insiden yang sama, kosong tanpa ada siapa pun.
Kali ini aku sungguh-sungguh marah, kembali masuk dengan emosi yang tinggi. Tiba-tiba saya teringat ucapan seorang teman yang menyampaikan bahwa makhluk halus juga butuh berbaur, artinya kita mesti meminta izin kepada mereka lewat kata-kata.
"permisi ya, aku hanya berencana tinggal secara baik-baik tanpa bermaksud mengusik kalian" percaya atau tidak saya mengatakan sendiri di depan pintu mengikuti saran teman saya itu.
Saya kembali masuk, benar dugaan aku, pasti suara lagi pintunya. Dengan sangat murka saya bergegas keluar dan marah-murka " mau kalian apa ! aku sudah permisi kenapa masih diusik ! kalian jahat saya juga jahat asal kalian tahu, mau tahu sifat setan saya, silahkan ketuk lagi coba !" seandainya waktu itu ada yang lihat mingkin mereka menyampaikan aku orang gila yang sedang marah dan berbicara sendiri.
Saya kembali masuk dengan kesal dan murka. Akhirnya kemarahan saya tadi menciptakan mahkluk halus takut dan tidak mengganggu lagi.
Saya tidak mempunyai kekuatan untuk melihat mereka tetapi sejak kejadian itu kita semkin akur sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Ada seorang teman yang mempunyai keunggulan untuk menyaksikan mereka, begitu hingga depan rumah beliau melihat ada yang sedang bangkit tepat di samping pagar. Bagi saya umumaja, kitakan sudah berteman sejak saya marah-marah dikala itu haha.
Pesan etika goresan pena ini ialah di mana saja kita berada sebetulnya mahkluk halus itu ada, bisa saja jin atau setan. Sebagai sesama ciptaan Tuhan hiduplah secara baik tanpa saling mengusik. Hiduplah secara baik sesama ciptaan Tuhan baik mahkluk halus dan nyata. Sumber https://www.atobasahona.com/
Saya termasuk orang yang mampu dibilang sangat takut dengan mahkluk halus ini pada zaman masih sekolah. Sering tertawa sendiri mengenang kisah konyol waktu itu, salah satunya takut tidur bila lampu kamar dimatikan malah yang sungguh konyol lagi minta diantar ibu jikalau mau ke kamar mandi, si Ibu nunggu di luar dan aku di dalam.
Sering tertawa sendiri dikala mengenang insiden yang konyol itu haha. Keberanian kepada makhluk halus mulai ada saat merantau di negeri orang. Namun hal itu juga belum seberapa, kadang-kadang masih takutnya juga. Entah kenapa dikala itu aku menjadi takut, mungkin pada umumnya nonton film horor.
Pada tahun 2014, saya mengambil perumahan kredit. Namanya perumahan, umumnya dibangun pada areal yang jauh dari perkampungan atau pemukiman warga masyarakat lokal. Lokasi yang baru dibuka untuk pembangunan perumahan yang kadang juga memilik histori yang seram.
Kisah pertama masuk rumah
Biasanya menurut etika orang Islam, berdoa dahulu sebelum masuk rumah baru. Benar memang, cuma saja waktu itu saya sendiri masih belum berkeluarga, tambah lagi kelurga besar aku jauh di kampung halaman.
Jadi saya mengambil keputusan untuk berdoa sendiri saja, toh bagi aku sama saja kok doanya, biarlah Tuhan yang menilai.
Pada malam pertama berada di rumah yang masih banyak semak-semak di sampingnya itu, suasana terasa sedikit angker. Blok rumah aku masih banyak rumah yang belum berpenghuni.
Saya yang masih sibuk di depan laptop sampai pukul 02.00 WITA. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu sempurna pukul 03.00, aku bergegas keluar dan membuka pintu.
"kok tidak ada orang !" berkata dalam hati dengan sedikit merinding.
Saya kembali masuk dan melanjutkan acara di depan laptop malam itu.
"Tok,tok " bunyi ketukan pindu terdengar lagi, sebetulnya aku sudah mulai merasa cemas namun berupaya mengsugesti diri sendiri untuk berani.
Entah apa yang aku rasakan malam itu, sukar untuk diterjemahkan. Takut, kesal, sendirian dan sedikit marah. Keluar lagi dan membuka pintu, masih insiden yang sama, kosong tanpa ada siapa pun.
Kali ini aku sungguh-sungguh marah, kembali masuk dengan emosi yang tinggi. Tiba-tiba saya teringat ucapan seorang teman yang menyampaikan bahwa makhluk halus juga butuh berbaur, artinya kita mesti meminta izin kepada mereka lewat kata-kata.
"permisi ya, aku hanya berencana tinggal secara baik-baik tanpa bermaksud mengusik kalian" percaya atau tidak saya mengatakan sendiri di depan pintu mengikuti saran teman saya itu.
Saya kembali masuk, benar dugaan aku, pasti suara lagi pintunya. Dengan sangat murka saya bergegas keluar dan marah-murka " mau kalian apa ! aku sudah permisi kenapa masih diusik ! kalian jahat saya juga jahat asal kalian tahu, mau tahu sifat setan saya, silahkan ketuk lagi coba !" seandainya waktu itu ada yang lihat mingkin mereka menyampaikan aku orang gila yang sedang marah dan berbicara sendiri.
Saya kembali masuk dengan kesal dan murka. Akhirnya kemarahan saya tadi menciptakan mahkluk halus takut dan tidak mengganggu lagi.
Saya tidak mempunyai kekuatan untuk melihat mereka tetapi sejak kejadian itu kita semkin akur sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Ada seorang teman yang mempunyai keunggulan untuk menyaksikan mereka, begitu hingga depan rumah beliau melihat ada yang sedang bangkit tepat di samping pagar. Bagi saya umumaja, kitakan sudah berteman sejak saya marah-marah dikala itu haha.
Pesan etika goresan pena ini ialah di mana saja kita berada sebetulnya mahkluk halus itu ada, bisa saja jin atau setan. Sebagai sesama ciptaan Tuhan hiduplah secara baik tanpa saling mengusik. Hiduplah secara baik sesama ciptaan Tuhan baik mahkluk halus dan nyata. Sumber https://www.atobasahona.com/
Tags:
Aktivitas