Kritik Kaum Muda Atas Gerontokrasi

Oleh : Rifaldi Rahalus

Selain di teras kepepengurusan, dalam partai politik terdapat struktur untuk level kepemudaan yang sering sebut sebgai sayap pemuda. Dalam banyak literature yang perna saya baca, terdapat aneka macam krtikan dari kaum muda atas kaum renta (gerontokrasi) alias mapan secara usia, bahkan dalam banyak peluang, tidak jarang pula ada kritikan kaum muda atas yang bau tanah secara lisan. Kaum muda beranggapan bahwa kaum renta sudah tak pantas lagi duduk di posisi-posisi strategis baik dibidang politik atau pemerintahan. Seolah, kaum mudalah yang lebih pantas dan pantas. Tentu saja keberadaan kaum bau tanah dalam waktu yang usang menduduki posisi-posisi strategis dilembaga apapun seolah menyumbat susukan regenerasi.

Kritik atas kaum bau tanah tadi, itu membuktikan bahwa selain pada level sayap cowok, di teras kepengurusan partai politik mesti diisih oleh yang muda. Anggapan ini mendasar, ini menyusul dalam sejarah panjang kepemimpinan kaum renta tak pernah menuntaskan masalah-dilema kebangsaan hingga hari ini, makanya perlu diberikan kesempatan kepada yang muda untuk berkipra dan menjadi pemimpin mengantikan yang bau tanah.

Lihat juga Rifaldi Rahalus :

Alam MEDSOS

Korupsi dan Perjudian Demokrasi 

Namun, perjaka yang membusungkan dada dan terkadang mengkritik kaum gerontokrasi bahkan diminta supaya mereka mundur dari tahta sebab dianggap telah tidak layak, itu tak masalah. Hanya saja, sangat tidak etis mengkritik yang bau tanah namun kesadaran dalam diri perjaka sendiri untuk introspeksi diri justru tidak pernah dipikirkan. Meskipun, disisi lain, ada benarnya juga jikalau ada kaum muda yang tampil kritis seperti itu, karena yang demikian bermakna mereka yang merasa diri masi muda dan mempunyai semangat muda mulai bertekad sekaligus mempunyai prinsip bangun sendiri tanpa bergantung pada yang renta.

Bagi kaum muda, ada dikala dimana kaum tua hanya mampu berdiri sebagai penasihat, sedangkan yang menjadi eksekutor yaitu mereka yang termasuk kaum muda. Dalam salah satu jilid Tafsir Al Azhar, dikutip oleh Buya Hamka ada sebentuk peribahasa Arab, yang menerangkan, cowok yang bagus ialah yang bukan mengatakan itulah ayah aku, tetapi inilah aku. Artinya, perjaka jangan sampai kehilangan percaya diri, dan terlampau membangga-banggakan dan mengandalkan orang lain (patronnya). Jangan menjadi kaum muda yang terus bergantung dan menyusui terhadap yang tua. Itu pun, perlu ada semacam kepastian, apakah kaum muda suda betul-betul siap secara mental dan berpengetahuan yang mumpuni sebelum bermaksud untuk menyingkirkan kaum renta selaku orang-orang yang lebih berpengalaman! Maka dari itu, kaum muda harus memiliki kompotensi diri.

Kompetensi fersi ensiklopedia, mengutip Alfian dalam Demokrasi Pilihanku, 2008, kompetensi diartikan sebagai adonan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan (skil) dan perilaku (behavior). Seiring waktu berputar, sekarang ini jumlah lapisan muda terdidik semakin meningkat jikalau ketimbang era kolonial Belanda atau diawal-awal kemerdekaan dulu. Saking banyaknya, jumlah pengangguran terdidik pun demikian tinggi, dan disitulah elit-elit muda terdidik banyak yang terlantar. Mengapa demikian? Karena kompetensinya tidak penuh.

Kembali pada duduk perkara gerontokrasi, pada hakikatnya gerontokrasi yakni dominasi yang berkonotasi negatif. Gerontokrasi menahan atau mengekang jalan politik kaum muda, karenanya, potensi-potensi pemimpin muda tak mampu berkembang dengan maksimal. Namun sungguh perlu diingat, gerontokrasi itu merukapakan sistemik yang harus dipatahkan dengan cara sistemik pula.

Melatih Kepemimpinan


Dimana dan bagaimana cara biar kaum muda bisa mangasah dasar-dasar kepemimpinannya? Sebagai sebentuk dari kompetensi yang meliputi penguasaan iptek, memiliki skil dan tentu bertingkah (behavioral) yang bagus dan juga dewasa, berbudi pekerti dan tentunya mempunyai integritas tinggi. Sejujurnya, hal itu tidak cuma didapat dibangku sekolah atau di perguruan tinggi tinggi. Sampai detik ini, aneka macam organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan yang terus konsisten melaksanakan pelatihan dasar kepemimpinan. Ada HMI, PMII,PMKR,GMKI,KNPI dan Pemuda Muhammadiyah dst, seluruhnya mampu dijadikan selaku wahana pengembagan skil dan mengasa kepemimpinan kaum muda, terutama bagi kaum muda yang ingin berkarir dalam politik simpel, pun tidak menutup kemungkinan diluar dari karir politik.

Dalam prosesnya, kebetulan aku sendiri mengalami hal itu, sejak dahulu bahkan sampai kini ini, versi kepemimpinan yang diajarkan bukanlah versi kepemimpinan yang pada akhirnya memproduksi pemimpin-peminmpin yang bermental bos. Namun pemimpin dalam artian melayani bukan sebaliknya dilayani. Metode ini bukan bermakna merendahkan kepemimpinan muda alasannya berposisi selaku pramusaji , namun lebih dari itu, jutuannya biar biar sehabis usai dari proses itu, dengan sendirinya akan terbentuk yang namanya pemimpin-pemimpin yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Percaya atau tidak, terbukti bahwa dihampir semua komponen dan kelembagaan baik di lembaga politik dan pemerintahan atau nonpemerintahan justru didominasi oleh mereka yang sebelumnya pernah mengenyam pendidikan di organisasi.

Pertanyaannya, sudakah kaum muda kini ini menyiapkan mental, pengetahuan dan skil, sikap serta integritas yang mencukupi sebelum memaksa yang bau tanah menyingkir? Jika semua itu belum dijalankan atau didimiliki, mulai dari kini mari sama-sama kita berbenah diri, mesti ada introspeksi dan retrospeksi dari diri kaum muda sebelum mengkritik yang renta. Demikian pula yang tua, jikalau sudah merasa diri tak sanggung memimpin orang lain kecuali diri langsung hendaknya disudahi saja.
Sumber https://www.atobasahona.com/

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama