Saya ingat di saat mengikuti pembelajaran di sekret dulu. Waktu itu pembelajarannya tentang akal dan ilahi, pematerinya ialah beberapa senior kami. Sebenarnya kalo dingat lagi, mungkin kami adalah beberapa korban junior. Namun dilain segi, kami bersyukur alasannya adalah mengalaminya dan menjadi suatu refleksi pengetahuan. Lebih banyak yang kami peroleh tentunya, alasannya materi mirip logika, ilahi dan manusia gres kami dapatkan diwaktu menjadi mahasiswa, apalgi sewaktu itu kami gres semester dua. Hal ini yang membuat kami kadang menuhankan senior kami,wajar karena mereka banyak memberi kami hal yang baru. Kata mereka seperti pemikiran seorang syech bagi kami. Padahal, kita sudah belajar tentang keleluasaan berpikir dan insan. Namun entah mengapa kita menjadi seorang yang kadang diperintah oleh majikan.
Manusia itu memiliki potensi berbuat kebaikan dan menyempurna. Kini, saya sadar perlakuan kita kepada senior ketika dulu, itu sebab alasan fitrah ini, berbuat baik dan menyempurna. Bukan hal menjadi seorang yang sukar diperintah ( tidak bebas ), terlebih lagi, lain sisi perlakuan kami sebenarnya jalan menyempurna, hehe... Mengapa demikian ? Kata Muthahhari, Fitrah itu sebuah rancangan dasar, dia berhubungan dengan banyak hal yang menyangkut diri insan : hakikat, potensi, dan jati dirinya, yang tanpa mengetahuinya kita tidak bakal tahu siapa diri kita. Ketidaktahuan inilah, antara lain mengakibatkan umat manusia terperangkap dalam banyak sekali rancangan yang keliru tentang diri insan, yang pada risikonya menghantarkan mereka pada banyak krisis kemanusiaan terbaru.
Saya ingat lagi, jelang pembelajaran kadang yang menciptakan kami semangat dalam mencar ilmu bila pematerinya, tampan. Sebenarnya dalam ruang belajar , patokan pemateri yang ganteng sangat banyak memberi efek, terlebih cerdas pula pematerinya. Ruang seakan bernuansa keindahan jadi kita sangat mencicipinya ( hehe ). Saya ingat sekali, saking mengagumi pemateri itu, bayangan paras ditembok pun kami katakan ganteng. Bayangan itu bagai lukisan yang dilukis oleh seorang profesional. ( hehe ). Hingga kadang kami sangat hatihati dalam mengikuti materinya,mulai mimik muka, bicara hingga pakaian.
Kisah ini, kadang saya merasa seperti orang gila disegi lain merupakan sebuah hal yang masuk akal. Karena manusia terpesona secara total pada keindahan, baik keindahan etika maupun keindahan bentuk. Tidak ada seorang manusia pun yang kosong dari rasa suka terhadap keindahan. Seseorang akan berusaha semaksimal mungkin,bahkan dalam pakaian sekalipun, supaya penampilanya menjadi indah. Keindahan, pada kenyataannya memang diperlukan dengan sendirinya. Daya tarik itu memang terjadi.
Manusia pada dasarnya menyukai keindahan, namun menikmati keindahan sungguh rumit. Menjaga agar tidak dari imajinasi liar itu sama hal berada di dekat api dikala tubuh sedang kedinginan. Ingin menghangatkan badan, tetapi perlu menjaga biar tidak terbakar. Seperti hijab, kalau kita cuma maknai sebuah kain, maka yang ada kita menganggap hijab itu mirip jilbab atau busana. Padahal hijab mempunyai makna yang lain lagi yakni, Hijab hati.
Berbicara tentang hati seseorang yakni hal yang hanya dirinya yang tahu dan ilahi. Pengelolaan menjaga agar terhindar dari imajinasi liar ( hal yang negatif ) itu bergantung dari dirinya dan cara pandang beliau dalam menyaksikan sesuatu. Cara pandang terhadap sesuatu bergantung dari epistemologinya. Setiap yang dilakukannya, itu berdasar pengetahuannya. Sikap yang baik, harus dibiasakan. Dan kebiasan akan menjadi abjad. Wallahuwalam....
Oleh : Nurdalily Sumber https://www.atobasahona.com/
Manusia itu memiliki potensi berbuat kebaikan dan menyempurna. Kini, saya sadar perlakuan kita kepada senior ketika dulu, itu sebab alasan fitrah ini, berbuat baik dan menyempurna. Bukan hal menjadi seorang yang sukar diperintah ( tidak bebas ), terlebih lagi, lain sisi perlakuan kami sebenarnya jalan menyempurna, hehe... Mengapa demikian ? Kata Muthahhari, Fitrah itu sebuah rancangan dasar, dia berhubungan dengan banyak hal yang menyangkut diri insan : hakikat, potensi, dan jati dirinya, yang tanpa mengetahuinya kita tidak bakal tahu siapa diri kita. Ketidaktahuan inilah, antara lain mengakibatkan umat manusia terperangkap dalam banyak sekali rancangan yang keliru tentang diri insan, yang pada risikonya menghantarkan mereka pada banyak krisis kemanusiaan terbaru.
Saya ingat lagi, jelang pembelajaran kadang yang menciptakan kami semangat dalam mencar ilmu bila pematerinya, tampan. Sebenarnya dalam ruang belajar , patokan pemateri yang ganteng sangat banyak memberi efek, terlebih cerdas pula pematerinya. Ruang seakan bernuansa keindahan jadi kita sangat mencicipinya ( hehe ). Saya ingat sekali, saking mengagumi pemateri itu, bayangan paras ditembok pun kami katakan ganteng. Bayangan itu bagai lukisan yang dilukis oleh seorang profesional. ( hehe ). Hingga kadang kami sangat hatihati dalam mengikuti materinya,mulai mimik muka, bicara hingga pakaian.
Kisah ini, kadang saya merasa seperti orang gila disegi lain merupakan sebuah hal yang masuk akal. Karena manusia terpesona secara total pada keindahan, baik keindahan etika maupun keindahan bentuk. Tidak ada seorang manusia pun yang kosong dari rasa suka terhadap keindahan. Seseorang akan berusaha semaksimal mungkin,bahkan dalam pakaian sekalipun, supaya penampilanya menjadi indah. Keindahan, pada kenyataannya memang diperlukan dengan sendirinya. Daya tarik itu memang terjadi.
Manusia pada dasarnya menyukai keindahan, namun menikmati keindahan sungguh rumit. Menjaga agar tidak dari imajinasi liar itu sama hal berada di dekat api dikala tubuh sedang kedinginan. Ingin menghangatkan badan, tetapi perlu menjaga biar tidak terbakar. Seperti hijab, kalau kita cuma maknai sebuah kain, maka yang ada kita menganggap hijab itu mirip jilbab atau busana. Padahal hijab mempunyai makna yang lain lagi yakni, Hijab hati.
Berbicara tentang hati seseorang yakni hal yang hanya dirinya yang tahu dan ilahi. Pengelolaan menjaga agar terhindar dari imajinasi liar ( hal yang negatif ) itu bergantung dari dirinya dan cara pandang beliau dalam menyaksikan sesuatu. Cara pandang terhadap sesuatu bergantung dari epistemologinya. Setiap yang dilakukannya, itu berdasar pengetahuannya. Sikap yang baik, harus dibiasakan. Dan kebiasan akan menjadi abjad. Wallahuwalam....
Oleh : Nurdalily
Tags:
Tulisan Sahabat