Domestikasi secara etimologis, berasal dari kata latin domus, atau rumah tangga: penjinakan hewan buas atau hewan liar dan sebagainya: binatang liar yang gres ditangkap di hutan perlu semoga mampu dimanfaatkan manfaatnya oleh manusia (Sumber: KBBI3) atau transformasi dari pola hidup “liar” menuju yang berbudaya yang terjadi ketika insan mulai berdomisili secara tetap, mulai terbatasi horison-horisonnya.
Sehingga dalam kaitan dengan ternak maka domestikasi mempunyai arti proses penjinakan binatang-hewan yang hidup liar menjadi hewan-binatang piaraan. Kegiatan atau proses domestikasi belum selsai alasannya manusia masih juga menambah jenis-jenis hewan piaraan yang gres, contohnya Rubah untuk diambil bulunya.
Landasan Dalam Memahami Domestikasi
Berdasarkan uraian diatas, maka pemahaman yang perlu dipahami ihwal domestikasi tanaman dan hewan mampu dilihat pada beberapa landasan, diantaranya: landasan Ontologis (apa itu domestikasi tumbuhan dan binatang); landasan epistemologi (bagaimana domestikasi tumbuhan dan binatang), dan landasan aksiologi (untuk apa domestikasi binatang dan tumbuhan).
1. Landasan Ontologis
Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani adalah ta onta dan logi. Ta ontaberarti berada dan logi memiliki arti ilmu wawasan atau fatwa, sehingga ontologi mampu diartikan selaku ilmu yang mengkaji perihal eksistensi suatu obyek.
Domestikasi sebagai proses perkembangan organisme yang dikontrol insan, oleh evans (1996) dinyatakan meliputi perubahan genetik (tanaman) yang berjalan sinambung semenjak dibudidayakan. Dengan demikian, domestikasi berhubungan dengan seleksi dan administrasi oleh manusia, dan tidak hanya sekedar pemeliharaan saja. Spesies organisasi eksotik yang dipindahkan dari habitat aslinya ke wadah budidaya, karakteristik genetiknya terubah dengan maksud tertentu, atau sebaliknya melalui sembarang cara/manajemen pemeliharaan, seleksi dan manajemen genetik (Pullin,1994). Dalam hal ini, mendomestikasi yakni menaturalisasikan biota ke keadaan insan dengan segala keperluan dan kapasitasnya.
Wallack (2001), domestikasi sudah berjalan lebih dari 10.000 tahun terakhir, bagi ratusan jenis flora dan hewan untuk menyanggupi kebutuhan manusia. Diperhitungkan 61% materi kering edibel dari flora utama dunia berasal dari gandum, jagung, dan padi. Selebihnya dari sekitar 100 spesies flora, antara lain: kedelai, tebu, sorghum, kentang, dan ubi kayu. Di samping itu, sekitar 95% dari produk daging, susu, dan telur unggas dihasilkan oleh sebanyak lima spesies binatang ternak. Sementara produk akuakultur berasal dari sekitar 200 spesies biota air (Pullin, 1994). Selain itu, Leakey (1999) mengidentifikasi 17 spesies buah-buahan tropis yang memiliki peluang dikembangkan dalam metode agroforestri dan pada bidang peternakan di Indonesia pemerintah telah mengkampanyekan pemanfaat jenis satwa keinginan sebagai sumber protein dimasa mendatang.
Evans (1996) mengungkapkan secara luas banyak sekali pergeseran yang terjadi pada performa tumbuhan, mulai dari yang menyangkut retensi benih hingga ke isi DNA. Demikian halnya perubahan bentuk dan ukuran pada sejumlah flora, serta laju pertumbuhan dan pertumbuhannya. Lebih dari pada itu, sejumlah flora yang didomestikasi ternyata kehilangan substansi racun sebagai unsur perlindungan alaminya kepada hama dan penyakit. Hal ini kemudian membuka kesempatan ke penyesuaian genetik, antara lain ditandai ketika flora tebu Saccharum officinarum disilangkan denganS.spontaneum yang mempunyai gen yang tahan atas penyakit cacar yang mewabah pada tahun 1880.
Seperti halnya binatang, perpindahan lokasi dari flora yang didomestikasi berlangsung secara hebat, menyebar luas dan jauh dari asalnya, bahkan sering kali melimpah di daerah yang didatanginya. Dicontohkan Wallack (2001), gandum yang berasal dari Timur Tengah, sekarang dibuat besar-besaran di Cina, India, dan Amerika. Jagung yang asalnya Meksiko, namun Brasilia menumbuhkannya tiga kali lebih banyak, China sebanyak enam kali lebih banyak, dan Amerika sebanyak 10 kali. Kentang yang mulainya di Andes, sekarang produktor utamanya yakni Cina, Rusia dan Polandia.
Wujud hakiki dari apa yang disebut domestikasi flora dan binatang selaku masukan/input, proses, dan balasannya/output mengandung banyak faktor dan bermatra luas. Penjelajahan selanjutnya kepada hal ini melalui pendekatan multi-disipliner, dipandang sebagai pilihan yang memihak pada perwujudan fungsi sains dalam kehidupan insan.
2. Landasan Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti “pengetahuan” dan “logos” yang berarti “teori”. Jadi epistemologi dapat diartikan selaku teori wawasan. Dalam ilmu filsafat, epistemologi dikategorikan selaku cabang ilmu yang mempelajari asal mula wawasan, struktur, sistem dan validitas wawasan.
Sejalan dengan pertumbuhan penalaran, upaya manusia dalam memenuhi rasa ingin tahu dan kebutuhannya, mengikuti tahapan perkembangan kebudayaan yang mencakup tahap mistis, tahap ontologis, dan tahap fungsional.
1) Tahap mistis yaitu abad dimana sikap manusia menujukkan keberadaannya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib disekitarnya.
2) Tahap ontologis ialah kurun dimana sikap manusia mengambil jarak dari objek disekitarnya serta mulai melakukan telaahan kepada objek tersebut.
3) Tahap fungsional yakni era dimana perilaku manusia selain memiliki pengetahuan berdasarkan telaahan terhadap objek-objek sekitarnya, namun juga memfungsionalkan wawasan tersebut bagi kepentingan dirinya dan lingkungan hidupnya.
Proses domestikasi tanaman dan hewan, tampaknya mengikuti tahapan perilaku manusia sebagaimana dikemukakan terdahulu. Dengan demikian, pengetahuan menjinakkan tanaman dan binatang diawali pada tahap mistis saat manusia bersikap menghadapi kekuatan yang mengepungnya sekaligus berusaha mempertahankan kehidupannya. Pada tahap ontologis dimana ilmu mulai meningkat , manusia mengambil jarak dengan objek domestikasi, bertindak sebagai subjek yang mengamati, menelaah dan memanfaatkan. Mengawalinya, tahap ontologis melahirkan pengetahuan yang berakar pada pengalaman menurut nalar sehat yang disokong oleh tata cara mencoba-coba, tetapi secara historis tercatat tingkat teknologinya tinggi meskipun tetap udik dalam bidang keilmuan (Suriasumantri,2000).
Tumbuhnya wawasan yang termasuk seni terapan ini, mirip antara lain dalam peradaban Mesir, Cina dan India, mengikutsertakan kemajuan permulaan pertanian dalam mendomestikasi tumbuhan dan binatang. Selanjutnya, telahan kepada objek sekitar mirip domestikasi, didekati secara rasional yang mengandalkan pikiran sehat deduktif, dan kemudian lewat tata cara ilmiah yang menggambungkan penalaran deduktif dan pengalaman empiris.
Domestikasi tumbuhan dan binatang secara faktual dikerjakan manusia berdasarkan prinsip-prinsip dan desain-rancangan yang ditemukan dengan memakai metode ilmiah. Dalam hal ini, prinsip dan konsep mendomestikasi disusun dengan menerapkan daypikir deduktif, sementara kesesuaiannya dengan fakta diverifikasi dengan menerapkan akal sehat induktif.
Berkaitan dengan masalah objek empiris dalam domestikasi tanaman dan binatang, ada dua kelompok pertanyaan yang teridentifikasi berlainan berdasarkan bidang ilmu dan menurut bidang teknologi. Dalam bidang ilmu, objeknya yakni tanda-tanda yang telah ada, sementara dalam bidang teknologi, objeknya yaitu tanda-tanda yang ingin diciptakan. Kejelasan perihal struktur dan bentuk susunan serta korelasi antar bagian, ialah prinsip dan rancangan yang dipertanyakan dalam bidang ilmu. Struktur sebuah gejala yang dikehendaki biar suatu fungsi yang dikehendaki terealisasi beserta cara membentuk struktur dimaksud, ialah rancangan yang dikerjakan dan ingin dihasilkan dalam bidang teknologi.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi ialah ilmu yang mempertanyakan nilai suatu objek yang akan dikaji. Secara signifikan, hasil transformasi tumbuhan dan binatang yang dilaksanakan dalam lingkup domestikasi, sudah memberi faedah dan menjinjing berkah bagi manusia.
Diperhadapkan pada isu dunia perihal lingkungan hidup yang condong mengalami degradasi, domestikasi organisme diarahkan pula untuk konservasi genetik dan/atau plasma nutfah. Sementara FAO mencatat bahwa disamping sebanyak enam laba domestikasi NWTP (non-wood timber products), terdapat empat kondisi merugikan (Simon,1996). Keuntungannya mencakup produksi yang dipercaya, meminimalkan tekanan pada hutan, menghasilkan pemasukan, gampang panen, perbaikan laju pertumbuhan, dan peningkatan nilai tumbuhan. Keadaan yang merugikan ditunjukkan pada peningkatan kerentanan terhadap hama, kehilangan fungsi ekologis, ketergantungan pada sumber benih liar yang gres, dan menambah nilai laba pada korporasi/perusahaan besar yang ada.
Tanpa mengabaikan sejumlah kerugian, sebetulnya tanaman dan binatang yang didomestikasi menerima perlakuan istimewa yang memungkinkan potensi gennya diberdayakan dengan aneka macam cara manipulasi. Meskipun demikian, proses domestikasi yang berlangsung juga merupakan gangguan fisik-biologis terhadap integritas spesies. Transformasi dijalankan dengan resiko yang tidak saja sukar diramalkan tapi juga yang kurang menjadi perhatian. Untuk itu, selain diharapkan rumusan biotik secara spesifik, nilai-nilai universal menghargai alam perlu dijabarkan terinci dalam memandu aktivitas domestikasi flora dan binatang berikutnya. Untuk itu ke depan, serangkaian upaya diperlukan dalam memantapkan pengembangan domestikasi sumber hayati dengan menerapkan pendekatan multi-disipliner berdasarkan metodologi tata cara.
Cara-Cara dan Tahapan Domestikasi
Semua hewan ternak yang dibudidayakan manusia kini ini mengalami proses domestikasi beribu tahun yang lalu. Berdasarkan hasil penalara manusia selama ini, tumbuhan dan hewan didomestikasi dengan bermacam-macam cara, dari yang sederhana sampai ke cara yang sungguh maju ditopang dengan kemajuan bioteknologi.
Sederhananya, mirip untuk tumbuhan buah-buahan berdasarkan Demchik dan Streed (2002) dengan cara sedikit demi sedikit ialah:
a) Wildcrafting: yaitu praktek panen tanaman dari alam atau habitat “liar”, untuk makanan atau obat-obatan. Ini berlaku untuk tanaman hidup dimanapun mereka mampu didapatkan, dan tidak terbatas pada suatu kawasan. Pertimbangan etis sering terlibat, seperti melindungi spesies yang terancam punah.
b) Stand Improvement: secara sederhana, perbaikan eksistensi ialah pengobatan, atau tindakan, yang mengembangkan pertumbuhan pohon yang terbaik dengan meniadakan semua pohon yang ada disekitarnya.
c) Penanaman/Pemeliharaan.
d) Seleksi, Pemuliaan dan Penggunaan Stok Andal dalam proses budidaya.
Bioteknologi selaku penerapan biologi molekuler, genetika molekuler dan rekayasa genetika, transformasi gen mengganti organisme eksotik menjadiGenetically Modified Organism (GMO) dan Transgenic Organism (TO). Mengacu pada Winter et al (1998) dan Madigan et al (2000), rekayasa genetika dinyatakan selaku upaya teknik memodifikasi penampilan genetika sel dan organisme melalui manipulasi sebuah gen dengan menggunakan teknik laboratorium. Ini merupakan sintesis dari genetika molekuler, biokimia dan mikrobiologi, utamanya dalam faktor yang meliputi isolasi, manipulasi, dan verbal materi genetik.
Sebagaimana dikemukakan terdahulu, wujud dari domestikasi tumbuhan dan hewan bermatra luas. Selain cara dan/atau metode yang mengirim pada penemuan organisme domestik (GMO dan TO), tahapan kegiatan domestikasi berdasarkan Simon (1996) akan sangat diputuskan oleh faktor-faktor biologi, kebijakan, pasar, dan sosial.
Pemanfaatan selanjutnya melalui budidaya dan bahan pangan yang dihasilkan, memerlukan sistem aplikasi yang berjangkauan komprehensif dan berlandasan aksiologis memadai. Dalam bidang akukultur, Pullin (1994) menyatakan bahwa permasalahan utama yang dihadapi ilmuwan dan pengambil keputusan adalah imbas jangka panjang pada keragaman hayati akuatik yang tidak dapat diprediksi secara sempurna berkenaan dengan kemungkinan lolosnya GMO dari wadah budidaya. Hal yang serupa dengan intensitas bermacam-macam mampu saja berlaku dalam kegiatan budidaya pertanian lainnya. Untuk itu, Peraturan Pemerintah RI No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup menyatakan usaha dan/atau kegiatan berefek besar dan penting kepada lingkungan hidup, antara lain: 1). Introduksi sebuah jenis tumbuhan baru atau jasad renik yang mampu menimbulkan penyakit gres terhadap tanaman; 2). Introduksi sebuah jenis binatang gres yang mampu menghipnotis kehidupan hewan yang telah ada; 3). Penggunaan materi hayati dan nir-hayati meliputi pengertian pergantian.
Uraian tersebut diatas menenteng ke ajaran bahwa acara domestikasi sebuah organisme yakni suatu kesatuan sistem yang tersusun oleh sejumlah unsur. Sehubungan dengan hal ini, sebuah bentuk sketsa pengambilan keputusan untuk menyebarkan budidaya yang menggunakan organisme domestik disuguhkan sketsa dibawah ini yang dimodifikasi dari Pullin (1994). Skema tersebut memperlihatkan pengambilan keputusan dapat didasarkan atas hasil dari penilaian yang prosesnya akurat, meliputi imbas sosial, efek lingkungan, dan kelayakan aspek teknis budidaya.
Menurut Zairin (2003), ada beberapa tingkatan yang dapat diraih manusia dalam upaya penjinakan hewan ke dalam suatu sistem budidaya. Tingkatan dimaksud, sebagaimana berjalan pada ikan, yakni selaku berikut:
a) Domestikasi tepat, yaitu bila seluruh daur hidup telah mampu berjalan dalam metode budidaya. Contoh: ikan orisinil Indonesia gurami (Osphroneus gouramy), tawes (Puntius javanicus), kerapu, bandeng, dan kakap putih.
b) Domestikasi hampir tepat, ialah jika seluruh daur hidupnya mampu berjalan dalam tata cara budidaya, tapi keberhasilannya masih rendah. Contoh: ikan asli Indonesia yakni betutu, balashark, dan arwana.
c) Domestikasi belum sempurna, yaitu bila gres sebagian daur hidupnya dapat berjalan dalam sistem budidaya. Contohnya: ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) dan tuna.
Tingkatan kesempurnaan domestikasi hewan biasanya, sangat diputuskan oleh pengetahuan ihwal keseluruhan aspek biologi dan ekologi binatang tersebut. Perilaku satwa liar di habitat alaminya.
Daftar Pustaka :
Keraf, Gorys (2003): asalusuldomestikasi. Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama
Pusat Pembinaan dan Pengembangan hewan, Diknas RI. (1989): Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta, Balai Pustaka.
(http://pdpt.ui.ac.id/mobm/hewandomestikasi.html) Sumber https://www.atobasahona.com/
Sehingga dalam kaitan dengan ternak maka domestikasi mempunyai arti proses penjinakan binatang-hewan yang hidup liar menjadi hewan-binatang piaraan. Kegiatan atau proses domestikasi belum selsai alasannya manusia masih juga menambah jenis-jenis hewan piaraan yang gres, contohnya Rubah untuk diambil bulunya.
Landasan Dalam Memahami Domestikasi
Berdasarkan uraian diatas, maka pemahaman yang perlu dipahami ihwal domestikasi tanaman dan hewan mampu dilihat pada beberapa landasan, diantaranya: landasan Ontologis (apa itu domestikasi tumbuhan dan binatang); landasan epistemologi (bagaimana domestikasi tumbuhan dan binatang), dan landasan aksiologi (untuk apa domestikasi binatang dan tumbuhan).
1. Landasan Ontologis
Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani adalah ta onta dan logi. Ta ontaberarti berada dan logi memiliki arti ilmu wawasan atau fatwa, sehingga ontologi mampu diartikan selaku ilmu yang mengkaji perihal eksistensi suatu obyek.
Domestikasi sebagai proses perkembangan organisme yang dikontrol insan, oleh evans (1996) dinyatakan meliputi perubahan genetik (tanaman) yang berjalan sinambung semenjak dibudidayakan. Dengan demikian, domestikasi berhubungan dengan seleksi dan administrasi oleh manusia, dan tidak hanya sekedar pemeliharaan saja. Spesies organisasi eksotik yang dipindahkan dari habitat aslinya ke wadah budidaya, karakteristik genetiknya terubah dengan maksud tertentu, atau sebaliknya melalui sembarang cara/manajemen pemeliharaan, seleksi dan manajemen genetik (Pullin,1994). Dalam hal ini, mendomestikasi yakni menaturalisasikan biota ke keadaan insan dengan segala keperluan dan kapasitasnya.
Wallack (2001), domestikasi sudah berjalan lebih dari 10.000 tahun terakhir, bagi ratusan jenis flora dan hewan untuk menyanggupi kebutuhan manusia. Diperhitungkan 61% materi kering edibel dari flora utama dunia berasal dari gandum, jagung, dan padi. Selebihnya dari sekitar 100 spesies flora, antara lain: kedelai, tebu, sorghum, kentang, dan ubi kayu. Di samping itu, sekitar 95% dari produk daging, susu, dan telur unggas dihasilkan oleh sebanyak lima spesies binatang ternak. Sementara produk akuakultur berasal dari sekitar 200 spesies biota air (Pullin, 1994). Selain itu, Leakey (1999) mengidentifikasi 17 spesies buah-buahan tropis yang memiliki peluang dikembangkan dalam metode agroforestri dan pada bidang peternakan di Indonesia pemerintah telah mengkampanyekan pemanfaat jenis satwa keinginan sebagai sumber protein dimasa mendatang.
Evans (1996) mengungkapkan secara luas banyak sekali pergeseran yang terjadi pada performa tumbuhan, mulai dari yang menyangkut retensi benih hingga ke isi DNA. Demikian halnya perubahan bentuk dan ukuran pada sejumlah flora, serta laju pertumbuhan dan pertumbuhannya. Lebih dari pada itu, sejumlah flora yang didomestikasi ternyata kehilangan substansi racun sebagai unsur perlindungan alaminya kepada hama dan penyakit. Hal ini kemudian membuka kesempatan ke penyesuaian genetik, antara lain ditandai ketika flora tebu Saccharum officinarum disilangkan denganS.spontaneum yang mempunyai gen yang tahan atas penyakit cacar yang mewabah pada tahun 1880.
Seperti halnya binatang, perpindahan lokasi dari flora yang didomestikasi berlangsung secara hebat, menyebar luas dan jauh dari asalnya, bahkan sering kali melimpah di daerah yang didatanginya. Dicontohkan Wallack (2001), gandum yang berasal dari Timur Tengah, sekarang dibuat besar-besaran di Cina, India, dan Amerika. Jagung yang asalnya Meksiko, namun Brasilia menumbuhkannya tiga kali lebih banyak, China sebanyak enam kali lebih banyak, dan Amerika sebanyak 10 kali. Kentang yang mulainya di Andes, sekarang produktor utamanya yakni Cina, Rusia dan Polandia.
Wujud hakiki dari apa yang disebut domestikasi flora dan binatang selaku masukan/input, proses, dan balasannya/output mengandung banyak faktor dan bermatra luas. Penjelajahan selanjutnya kepada hal ini melalui pendekatan multi-disipliner, dipandang sebagai pilihan yang memihak pada perwujudan fungsi sains dalam kehidupan insan.
2. Landasan Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti “pengetahuan” dan “logos” yang berarti “teori”. Jadi epistemologi dapat diartikan selaku teori wawasan. Dalam ilmu filsafat, epistemologi dikategorikan selaku cabang ilmu yang mempelajari asal mula wawasan, struktur, sistem dan validitas wawasan.
Sejalan dengan pertumbuhan penalaran, upaya manusia dalam memenuhi rasa ingin tahu dan kebutuhannya, mengikuti tahapan perkembangan kebudayaan yang mencakup tahap mistis, tahap ontologis, dan tahap fungsional.
1) Tahap mistis yaitu abad dimana sikap manusia menujukkan keberadaannya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib disekitarnya.
2) Tahap ontologis ialah kurun dimana sikap manusia mengambil jarak dari objek disekitarnya serta mulai melakukan telaahan kepada objek tersebut.
3) Tahap fungsional yakni era dimana perilaku manusia selain memiliki pengetahuan berdasarkan telaahan terhadap objek-objek sekitarnya, namun juga memfungsionalkan wawasan tersebut bagi kepentingan dirinya dan lingkungan hidupnya.
Proses domestikasi tanaman dan hewan, tampaknya mengikuti tahapan perilaku manusia sebagaimana dikemukakan terdahulu. Dengan demikian, pengetahuan menjinakkan tanaman dan binatang diawali pada tahap mistis saat manusia bersikap menghadapi kekuatan yang mengepungnya sekaligus berusaha mempertahankan kehidupannya. Pada tahap ontologis dimana ilmu mulai meningkat , manusia mengambil jarak dengan objek domestikasi, bertindak sebagai subjek yang mengamati, menelaah dan memanfaatkan. Mengawalinya, tahap ontologis melahirkan pengetahuan yang berakar pada pengalaman menurut nalar sehat yang disokong oleh tata cara mencoba-coba, tetapi secara historis tercatat tingkat teknologinya tinggi meskipun tetap udik dalam bidang keilmuan (Suriasumantri,2000).
Tumbuhnya wawasan yang termasuk seni terapan ini, mirip antara lain dalam peradaban Mesir, Cina dan India, mengikutsertakan kemajuan permulaan pertanian dalam mendomestikasi tumbuhan dan binatang. Selanjutnya, telahan kepada objek sekitar mirip domestikasi, didekati secara rasional yang mengandalkan pikiran sehat deduktif, dan kemudian lewat tata cara ilmiah yang menggambungkan penalaran deduktif dan pengalaman empiris.
Domestikasi tumbuhan dan binatang secara faktual dikerjakan manusia berdasarkan prinsip-prinsip dan desain-rancangan yang ditemukan dengan memakai metode ilmiah. Dalam hal ini, prinsip dan konsep mendomestikasi disusun dengan menerapkan daypikir deduktif, sementara kesesuaiannya dengan fakta diverifikasi dengan menerapkan akal sehat induktif.
Berkaitan dengan masalah objek empiris dalam domestikasi tanaman dan binatang, ada dua kelompok pertanyaan yang teridentifikasi berlainan berdasarkan bidang ilmu dan menurut bidang teknologi. Dalam bidang ilmu, objeknya yakni tanda-tanda yang telah ada, sementara dalam bidang teknologi, objeknya yaitu tanda-tanda yang ingin diciptakan. Kejelasan perihal struktur dan bentuk susunan serta korelasi antar bagian, ialah prinsip dan rancangan yang dipertanyakan dalam bidang ilmu. Struktur sebuah gejala yang dikehendaki biar suatu fungsi yang dikehendaki terealisasi beserta cara membentuk struktur dimaksud, ialah rancangan yang dikerjakan dan ingin dihasilkan dalam bidang teknologi.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi ialah ilmu yang mempertanyakan nilai suatu objek yang akan dikaji. Secara signifikan, hasil transformasi tumbuhan dan binatang yang dilaksanakan dalam lingkup domestikasi, sudah memberi faedah dan menjinjing berkah bagi manusia.
Diperhadapkan pada isu dunia perihal lingkungan hidup yang condong mengalami degradasi, domestikasi organisme diarahkan pula untuk konservasi genetik dan/atau plasma nutfah. Sementara FAO mencatat bahwa disamping sebanyak enam laba domestikasi NWTP (non-wood timber products), terdapat empat kondisi merugikan (Simon,1996). Keuntungannya mencakup produksi yang dipercaya, meminimalkan tekanan pada hutan, menghasilkan pemasukan, gampang panen, perbaikan laju pertumbuhan, dan peningkatan nilai tumbuhan. Keadaan yang merugikan ditunjukkan pada peningkatan kerentanan terhadap hama, kehilangan fungsi ekologis, ketergantungan pada sumber benih liar yang gres, dan menambah nilai laba pada korporasi/perusahaan besar yang ada.
Tanpa mengabaikan sejumlah kerugian, sebetulnya tanaman dan binatang yang didomestikasi menerima perlakuan istimewa yang memungkinkan potensi gennya diberdayakan dengan aneka macam cara manipulasi. Meskipun demikian, proses domestikasi yang berlangsung juga merupakan gangguan fisik-biologis terhadap integritas spesies. Transformasi dijalankan dengan resiko yang tidak saja sukar diramalkan tapi juga yang kurang menjadi perhatian. Untuk itu, selain diharapkan rumusan biotik secara spesifik, nilai-nilai universal menghargai alam perlu dijabarkan terinci dalam memandu aktivitas domestikasi flora dan binatang berikutnya. Untuk itu ke depan, serangkaian upaya diperlukan dalam memantapkan pengembangan domestikasi sumber hayati dengan menerapkan pendekatan multi-disipliner berdasarkan metodologi tata cara.
Cara-Cara dan Tahapan Domestikasi
Semua hewan ternak yang dibudidayakan manusia kini ini mengalami proses domestikasi beribu tahun yang lalu. Berdasarkan hasil penalara manusia selama ini, tumbuhan dan hewan didomestikasi dengan bermacam-macam cara, dari yang sederhana sampai ke cara yang sungguh maju ditopang dengan kemajuan bioteknologi.
Sederhananya, mirip untuk tumbuhan buah-buahan berdasarkan Demchik dan Streed (2002) dengan cara sedikit demi sedikit ialah:
a) Wildcrafting: yaitu praktek panen tanaman dari alam atau habitat “liar”, untuk makanan atau obat-obatan. Ini berlaku untuk tanaman hidup dimanapun mereka mampu didapatkan, dan tidak terbatas pada suatu kawasan. Pertimbangan etis sering terlibat, seperti melindungi spesies yang terancam punah.
b) Stand Improvement: secara sederhana, perbaikan eksistensi ialah pengobatan, atau tindakan, yang mengembangkan pertumbuhan pohon yang terbaik dengan meniadakan semua pohon yang ada disekitarnya.
c) Penanaman/Pemeliharaan.
d) Seleksi, Pemuliaan dan Penggunaan Stok Andal dalam proses budidaya.
Bioteknologi selaku penerapan biologi molekuler, genetika molekuler dan rekayasa genetika, transformasi gen mengganti organisme eksotik menjadiGenetically Modified Organism (GMO) dan Transgenic Organism (TO). Mengacu pada Winter et al (1998) dan Madigan et al (2000), rekayasa genetika dinyatakan selaku upaya teknik memodifikasi penampilan genetika sel dan organisme melalui manipulasi sebuah gen dengan menggunakan teknik laboratorium. Ini merupakan sintesis dari genetika molekuler, biokimia dan mikrobiologi, utamanya dalam faktor yang meliputi isolasi, manipulasi, dan verbal materi genetik.
Sebagaimana dikemukakan terdahulu, wujud dari domestikasi tumbuhan dan hewan bermatra luas. Selain cara dan/atau metode yang mengirim pada penemuan organisme domestik (GMO dan TO), tahapan kegiatan domestikasi berdasarkan Simon (1996) akan sangat diputuskan oleh faktor-faktor biologi, kebijakan, pasar, dan sosial.
Pemanfaatan selanjutnya melalui budidaya dan bahan pangan yang dihasilkan, memerlukan sistem aplikasi yang berjangkauan komprehensif dan berlandasan aksiologis memadai. Dalam bidang akukultur, Pullin (1994) menyatakan bahwa permasalahan utama yang dihadapi ilmuwan dan pengambil keputusan adalah imbas jangka panjang pada keragaman hayati akuatik yang tidak dapat diprediksi secara sempurna berkenaan dengan kemungkinan lolosnya GMO dari wadah budidaya. Hal yang serupa dengan intensitas bermacam-macam mampu saja berlaku dalam kegiatan budidaya pertanian lainnya. Untuk itu, Peraturan Pemerintah RI No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup menyatakan usaha dan/atau kegiatan berefek besar dan penting kepada lingkungan hidup, antara lain: 1). Introduksi sebuah jenis tumbuhan baru atau jasad renik yang mampu menimbulkan penyakit gres terhadap tanaman; 2). Introduksi sebuah jenis binatang gres yang mampu menghipnotis kehidupan hewan yang telah ada; 3). Penggunaan materi hayati dan nir-hayati meliputi pengertian pergantian.
Uraian tersebut diatas menenteng ke ajaran bahwa acara domestikasi sebuah organisme yakni suatu kesatuan sistem yang tersusun oleh sejumlah unsur. Sehubungan dengan hal ini, sebuah bentuk sketsa pengambilan keputusan untuk menyebarkan budidaya yang menggunakan organisme domestik disuguhkan sketsa dibawah ini yang dimodifikasi dari Pullin (1994). Skema tersebut memperlihatkan pengambilan keputusan dapat didasarkan atas hasil dari penilaian yang prosesnya akurat, meliputi imbas sosial, efek lingkungan, dan kelayakan aspek teknis budidaya.
Menurut Zairin (2003), ada beberapa tingkatan yang dapat diraih manusia dalam upaya penjinakan hewan ke dalam suatu sistem budidaya. Tingkatan dimaksud, sebagaimana berjalan pada ikan, yakni selaku berikut:
a) Domestikasi tepat, yaitu bila seluruh daur hidup telah mampu berjalan dalam metode budidaya. Contoh: ikan orisinil Indonesia gurami (Osphroneus gouramy), tawes (Puntius javanicus), kerapu, bandeng, dan kakap putih.
b) Domestikasi hampir tepat, ialah jika seluruh daur hidupnya mampu berjalan dalam tata cara budidaya, tapi keberhasilannya masih rendah. Contoh: ikan asli Indonesia yakni betutu, balashark, dan arwana.
c) Domestikasi belum sempurna, yaitu bila gres sebagian daur hidupnya dapat berjalan dalam sistem budidaya. Contohnya: ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) dan tuna.
Tingkatan kesempurnaan domestikasi hewan biasanya, sangat diputuskan oleh pengetahuan ihwal keseluruhan aspek biologi dan ekologi binatang tersebut. Perilaku satwa liar di habitat alaminya.
Daftar Pustaka :
Keraf, Gorys (2003): asalusuldomestikasi. Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama
Pusat Pembinaan dan Pengembangan hewan, Diknas RI. (1989): Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta, Balai Pustaka.
(http://pdpt.ui.ac.id/mobm/hewandomestikasi.html) Sumber https://www.atobasahona.com/
Tags:
Ekosistem