Seluruh bangsa Indonesia niscaya menginginkan pemilihan Legislatif dan penyeleksian presiden tahun 2019 berlangsung aman dan damai. Namun, kadang kita sebagai bangsa lupa, kalau untuk mencapai hal itu tergantung pada kita semua sebagai pelaksana pesta demokrasi negara. Para calon, tim-tim berhasil dan semua para pendukung, berperan penting akan terciptanya pemilu hening di tahun 2019 nanti hingga tercapainya keselamatan tanpa mesti ada upaya keras dari pihak yang berwajib.
Kentalnya nuansa politik sungguh tampakdampaknya di tingkat kawasan. Apalagi pada daerah-kawasan tertentu bahkan terbilang ekstrim. Bagaimana tidak, para penunjang figur kandidat yang berlainan saja mampu tak akur dalam kehidupan keseharian.
Padahal sebelum hadirnya pesta demokrasi atau pemilihan, mereka pada akur dan baik-baik saja. Ada seorang sahabat saya yang berasal dari Manado pernah mengatakan bahwa " To, p ngoni sana kalo pemilu, panas beliau p situasi kang" artinya, To (saya), di kawasan kalian sana moment penyeleksian sangat panas situasi menikmati demokrasi. Pemilihan yang dimaksud ialah penyeleksian Gubernur, Bupati dan Legislatif.
Itu salah satu acuan kawasan di Indonesia yang merayakan pesta demokrasi secara regional. Untuk mencapai pemilu aman di tahun 2019 secara nasional, butuh gerakan-gerakan penyadaran dan kesadaran dari semua pihak elemen penduduk . Penyadaran oleh pihak pemerintahan terkait untuk mencapai kesadaran masif ke seluruh rakyat Indonesia.
Hal yang layak ditakutkan ialah kebiasaan-kebiasaan buruk dikala merayakan pesta demokrasi akan menjadi budaya turun temurun dari generasi ke generasi. Bukan hanya menginginkan kesadaran individu namun lebih dari itu, butuh penyadaran banyak individu demi merangsang lebih individu biar mampu dan bisa menjadi penduduk yang tenang dalam melakukan moment pemilihan lazim.
Mulailah menjadi penduduk yang pintar saat ini, berbeda calon atau persepsi itu hal lazimdalam demokrasi. Hal bukan malah membuat kita saling tidak senang tetapi dimana sebagai ajang kian meriahnya pesta demokrasi ini.
Kentalnya nuansa politik sungguh tampakdampaknya di tingkat kawasan. Apalagi pada daerah-kawasan tertentu bahkan terbilang ekstrim. Bagaimana tidak, para penunjang figur kandidat yang berlainan saja mampu tak akur dalam kehidupan keseharian.
Seperi di Maluku Utara, pola ini aku tuangkan alasannya saya sendiri berasal dari Kepulauan Sula, Maluku Utara. Pesta demokrasi pada kawasan-daerah tersebut terbilang unik, kenapa ? sesama saudara saja bisa tidak akur saat menjadi tim yang berlainan pada kandidat.
Padahal sebelum hadirnya pesta demokrasi atau pemilihan, mereka pada akur dan baik-baik saja. Ada seorang sahabat saya yang berasal dari Manado pernah mengatakan bahwa " To, p ngoni sana kalo pemilu, panas beliau p situasi kang" artinya, To (saya), di kawasan kalian sana moment penyeleksian sangat panas situasi menikmati demokrasi. Pemilihan yang dimaksud ialah penyeleksian Gubernur, Bupati dan Legislatif.
Itu salah satu acuan kawasan di Indonesia yang merayakan pesta demokrasi secara regional. Untuk mencapai pemilu aman di tahun 2019 secara nasional, butuh gerakan-gerakan penyadaran dan kesadaran dari semua pihak elemen penduduk . Penyadaran oleh pihak pemerintahan terkait untuk mencapai kesadaran masif ke seluruh rakyat Indonesia.
Hal yang layak ditakutkan ialah kebiasaan-kebiasaan buruk dikala merayakan pesta demokrasi akan menjadi budaya turun temurun dari generasi ke generasi. Bukan hanya menginginkan kesadaran individu namun lebih dari itu, butuh penyadaran banyak individu demi merangsang lebih individu biar mampu dan bisa menjadi penduduk yang tenang dalam melakukan moment pemilihan lazim.
Mulailah menjadi penduduk yang pintar saat ini, berbeda calon atau persepsi itu hal lazimdalam demokrasi. Hal bukan malah membuat kita saling tidak senang tetapi dimana sebagai ajang kian meriahnya pesta demokrasi ini.
Berbeda calon itu biasa tapi ingat kita bersaudara dalam Indonesia dan bersaudara dalam asal daerah yang sama selamanya dan persaudaraan tidak akan dapat dihilangkan dengan moment per 5 tahun. Kita bersaudara dalam Indonesia, bersaudara sedaerah dan bersaudara dalan perbedaan opsi. Jadilah penduduk damai dan cerdas tanpa gaduh dalam Pemilihan Umum (PEMILU) 2019.
Sumber https://www.atobasahona.com/
Tags:
Opini