Perjalanan Bangsa Indonesia tidak lepas dari tugas besar belum dewasa bangsa yang melahirkan pemikiran -ide untuk pembangunan disegala sendi kehidupan. Peran- peran intelektual ini selaku upaya untuk menjawab tantangan zaman yang terus berganti secara dinamis. Hal ini bukan hadir begitu saja tetapi lewat aneka macam proses, transformasi, aplikasi, hingga pergeseran format gerakan sesuai konteks persoalan yang dihadapi bangsa ini.
Era milenial dengan segala akomodasi dan percepatan yang diciptakannya telah melahirkan cara pandang yang berlainan dari generasi beberapa tahun sebelumnya. Arus isu yang merepotkan untuk dibendung menghipnotis perkembangan sosial sampai ekonomi.
Kondisi ini memaksa bangsa ini harus dapat mengikuti keadaan untuk memecahkan banyak sekali duduk perkara-persoalan yang ada. Seperti transformasi ideologi-ideologi yang dijembatani oleh media, kepentingan ekonomi, politik sampai info-info hoax yang beredar dan memperngaruhi cara pandang sampai sikap masyarakat.
Islam sebagai sebuah akidah yang banyak dianut masyarakat Indonesia, dilarang kaku dalam menghadapi pertumbuhan zaman ini. Islam tak bisa dilihat sebagai ritual dan simbol semata, nmun dengan kesempurnaan ajarannya mampu menunjukkan penyelesaian.
Hal ini mesti ditopang dengan intelektual yang kuat untuk berguru dari kurun kemudian dan mempersiapkan kurun depan. Namun simpulan-tamat ini justru agama yang sarat dengan aliran budpekerti dan rancangan perubahan sosial justru dikurung dalam cara pandang yang sangat eksklusif.
Mulai dari mempergunakan agama untuk kepentingan politik, menafsirkan dasar negara dengan persepsi agama yang kemudian merusak integrasi bangsa, sampai gosip dan pemikiran agamawan yang tak menjamah persoalan yang subtansial dari bangsa ini. Agama dihadirkan cuma sebagai tampilan dan hukum syariat semata, tetapi jarang menjamah pada persoalan penduduk miskin, keadaan watak penduduk , politik kerakyatan, kerusakan ekosistem, kriminalisasi penduduk akhlak dan desa, dan lain sebagainya.
Mahasiswa selaku penduduk intelektual dalam organisasi pendidikan tingkat tinggi dengan cara pandang kemoderatan dan kualitas yang termuat dalam setiap ilmu yang diserap, mesti menyiapkan diri sebagai potensi militan bangsa bukan cuma sebagai penikmat perkembangan zaman tapi sebaliknya, dapat memecahkan dilema- problem yang ada di masyarakat. Menghadirkan cara pandang dalam konteks beragama yang plural dan tidak cuma membicarakan masalah ritual dan syariat. Hingga mahasiswa menjadi agen gerakan pergantian country yang mencerahkan dan membebaskan dari segala ketertinggalan rakyat dan kelap-kelip duduk perkara bangsa.
Hal ini pula yang mendorong mahasiswa yang menjadi keinginan mesti melahirkan banyak sekali gagasan dan format baru gerakan sesuai tuntutan zaman. Tidak hanyalah tentang keislaman semata namun juga kebangsaan, kerakyatan apalagi dalam konteks keindonesiaan.
Rakyat dan problem bangsa. Harus di anggap selaku ideologi perjuangan mahasiswa sampai mesti menjadi dasar aliran bagi setiap mahasiswa selanjutnya, untuk bergerak secara responsif hingga lahirlah generasi bangsa yang berjiwa ideologis, militan penggerak, dan progresif baik dalam fatwa maupun langkah-langkah.
Salam kopi hitam
Penulis: Awin Buton Sumber https://www.atobasahona.com/
Era milenial dengan segala akomodasi dan percepatan yang diciptakannya telah melahirkan cara pandang yang berlainan dari generasi beberapa tahun sebelumnya. Arus isu yang merepotkan untuk dibendung menghipnotis perkembangan sosial sampai ekonomi.
Kondisi ini memaksa bangsa ini harus dapat mengikuti keadaan untuk memecahkan banyak sekali duduk perkara-persoalan yang ada. Seperti transformasi ideologi-ideologi yang dijembatani oleh media, kepentingan ekonomi, politik sampai info-info hoax yang beredar dan memperngaruhi cara pandang sampai sikap masyarakat.
Islam sebagai sebuah akidah yang banyak dianut masyarakat Indonesia, dilarang kaku dalam menghadapi pertumbuhan zaman ini. Islam tak bisa dilihat sebagai ritual dan simbol semata, nmun dengan kesempurnaan ajarannya mampu menunjukkan penyelesaian.
Hal ini mesti ditopang dengan intelektual yang kuat untuk berguru dari kurun kemudian dan mempersiapkan kurun depan. Namun simpulan-tamat ini justru agama yang sarat dengan aliran budpekerti dan rancangan perubahan sosial justru dikurung dalam cara pandang yang sangat eksklusif.
Mulai dari mempergunakan agama untuk kepentingan politik, menafsirkan dasar negara dengan persepsi agama yang kemudian merusak integrasi bangsa, sampai gosip dan pemikiran agamawan yang tak menjamah persoalan yang subtansial dari bangsa ini. Agama dihadirkan cuma sebagai tampilan dan hukum syariat semata, tetapi jarang menjamah pada persoalan penduduk miskin, keadaan watak penduduk , politik kerakyatan, kerusakan ekosistem, kriminalisasi penduduk akhlak dan desa, dan lain sebagainya.
Mahasiswa selaku penduduk intelektual dalam organisasi pendidikan tingkat tinggi dengan cara pandang kemoderatan dan kualitas yang termuat dalam setiap ilmu yang diserap, mesti menyiapkan diri sebagai potensi militan bangsa bukan cuma sebagai penikmat perkembangan zaman tapi sebaliknya, dapat memecahkan dilema- problem yang ada di masyarakat. Menghadirkan cara pandang dalam konteks beragama yang plural dan tidak cuma membicarakan masalah ritual dan syariat. Hingga mahasiswa menjadi agen gerakan pergantian country yang mencerahkan dan membebaskan dari segala ketertinggalan rakyat dan kelap-kelip duduk perkara bangsa.
Hal ini pula yang mendorong mahasiswa yang menjadi keinginan mesti melahirkan banyak sekali gagasan dan format baru gerakan sesuai tuntutan zaman. Tidak hanyalah tentang keislaman semata namun juga kebangsaan, kerakyatan apalagi dalam konteks keindonesiaan.
Rakyat dan problem bangsa. Harus di anggap selaku ideologi perjuangan mahasiswa sampai mesti menjadi dasar aliran bagi setiap mahasiswa selanjutnya, untuk bergerak secara responsif hingga lahirlah generasi bangsa yang berjiwa ideologis, militan penggerak, dan progresif baik dalam fatwa maupun langkah-langkah.
Salam kopi hitam
Penulis: Awin Buton Sumber https://www.atobasahona.com/
Tags:
Tulisan Sahabat