Bukan hanya motif jalan-jalan ke pulau Halmahera tetapi aktivtas ini sebetulnya atas tuntuntan pekerjan, hingga jadinya saya mampu berada di semenanjung ujung Halmahera, lebih tepatnya kecamatan Patani dan Patani Utara, Kabupaten Halmaera Tengah, Provinsi Maluku Utara.
Di kecamatan Patani terdapat 5 desa yang aku singgahi ialah Yondeliu, Kipai, Wailegi, Yeisowo dan Baka Jaya sedangkan di Patani Utara yakni desa Bilifitu, Gemia, Maliforo, Tepeleo, Tepeleo Batu Dua dan Pantura Jaya.
Sebuah perjalanan panjang dari kota Manado, menggunakan angkutanpesawat udara menuju kota Ternate yang mengkonsumsi waktu kurang lebih 1 jam. Dari kota Ternate melintasi lautan menggunakan speed boad menuju Sofifi kurang lebih 45 menit, dan dari situlah kita menempuh perjalanan darat menggunakan kendaraan beroda empat selama kurang lebih 3 jam sampai tiba di kota Weda, Halmahera Tengah.
Untuk sampai di Kecamatan Patani dan Patani Utara kita memakai speed boat dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Ada juga angkutankapal laut sepekan sekali, tetapi bila waktu pemberangkatan anda tidak sesuai dengan acara kapal maka ada opsi lain adalah speed boot.
Pulau Halmahera begitu luas dan kami hanya sering melihatnya melalui peta. Namun, dalam perjalanan ini bisa sampai juga tepat di ujung pulau Halmahera, lebih tepatnya Tanjung Ngolopopo di wilayah administrasi desa Baka Jaya. Sebuah desa paling ujung yang sempurna berada disitu.
Beribu pengalaman yang aku peroleh mulai dari pertama kalinya hingga di Patani dan Patani Utara, ditambah lagi menjelajahi semua desa yang ada di kedua kecamatan itu. Ragam budaya, sejarah, abjad masyarakat dan yang paling penting bagi saya adalah contoh kearifan lokal budaya pertanian di daerah tersebut. Hasil perkebunan yang secara umum dikuasai adalah Pala atau sebutan masyarakat lokal Pala Hutan. Itulah kenapa kedua kecamatan ini terkenal dengan hasil Pala yang bagus.
Mendalami lapisan sosial masyarakat dengan rasa kebersamaan menjadi nilai multi dimensi yang mengajarkan fikiran hingga menyentuh niat kerakyatan. Mengikis kesombongan, menertibkan ego yang melenceng, melatih kata-kata yang merdu, senyum menjadi lapang dada, semakin menyadari yang hak dan batil hingga hakekat kehidupan semakin terasa. Sebuah pengalaman berguna yang tak terlewatkan, dapat berjumpa dengan penduduk di sana, mendengar eksklusif cerita-kisah rakyat dan bermacam-macam kehidupan. Sumber https://www.atobasahona.com/

Di kecamatan Patani terdapat 5 desa yang aku singgahi ialah Yondeliu, Kipai, Wailegi, Yeisowo dan Baka Jaya sedangkan di Patani Utara yakni desa Bilifitu, Gemia, Maliforo, Tepeleo, Tepeleo Batu Dua dan Pantura Jaya.
Sebuah perjalanan panjang dari kota Manado, menggunakan angkutanpesawat udara menuju kota Ternate yang mengkonsumsi waktu kurang lebih 1 jam. Dari kota Ternate melintasi lautan menggunakan speed boad menuju Sofifi kurang lebih 45 menit, dan dari situlah kita menempuh perjalanan darat menggunakan kendaraan beroda empat selama kurang lebih 3 jam sampai tiba di kota Weda, Halmahera Tengah.
Untuk sampai di Kecamatan Patani dan Patani Utara kita memakai speed boat dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Ada juga angkutankapal laut sepekan sekali, tetapi bila waktu pemberangkatan anda tidak sesuai dengan acara kapal maka ada opsi lain adalah speed boot.

Pulau Halmahera begitu luas dan kami hanya sering melihatnya melalui peta. Namun, dalam perjalanan ini bisa sampai juga tepat di ujung pulau Halmahera, lebih tepatnya Tanjung Ngolopopo di wilayah administrasi desa Baka Jaya. Sebuah desa paling ujung yang sempurna berada disitu.
Beribu pengalaman yang aku peroleh mulai dari pertama kalinya hingga di Patani dan Patani Utara, ditambah lagi menjelajahi semua desa yang ada di kedua kecamatan itu. Ragam budaya, sejarah, abjad masyarakat dan yang paling penting bagi saya adalah contoh kearifan lokal budaya pertanian di daerah tersebut. Hasil perkebunan yang secara umum dikuasai adalah Pala atau sebutan masyarakat lokal Pala Hutan. Itulah kenapa kedua kecamatan ini terkenal dengan hasil Pala yang bagus.
Mendalami lapisan sosial masyarakat dengan rasa kebersamaan menjadi nilai multi dimensi yang mengajarkan fikiran hingga menyentuh niat kerakyatan. Mengikis kesombongan, menertibkan ego yang melenceng, melatih kata-kata yang merdu, senyum menjadi lapang dada, semakin menyadari yang hak dan batil hingga hakekat kehidupan semakin terasa. Sebuah pengalaman berguna yang tak terlewatkan, dapat berjumpa dengan penduduk di sana, mendengar eksklusif cerita-kisah rakyat dan bermacam-macam kehidupan.