Vegetasi dalam ekologi yaitu istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bab hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati sebuah ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-acuan vegetasi. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau penduduk tumbuh-tanaman. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki yakni sebuah tegakan, yang ialah asosiasi konkrit (Rohman dan Sumberartha, 2001).
Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat berkembang-tumbuhan (Rohman dan Sumberatha, 2001) :
1. Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya.
2. Mempelajari tegakan tumbuh-tanaman bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah yakni sebuah jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Baca : Analisis Vegetasi
Dalam ilmu vegetasi sudah dikembangkan banyak sekali tata cara untuk menganalisis sebuah vegetasi yang sangat menolong dalam mendekripsikan sebuah vegetasi sesuai dengan maksudnya. Dalam hal ini suatu metodologi sungguh meningkat dengan pesat seiring (Syafei, 1990).
Pengamatan parameter vegetasi menurut bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yakni bagian biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tanaman merupakan salah satu unsur biotik yang menempati habitat tertentu mirip hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain (Syafei, 1990).
Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu daerah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang berkembang secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi aneka macam faktor lingkungan dan mampu mengalami pergeseran drastik karena imbas anthropogenik (Setiadi, 1984).
Baca Juga : Perbedaan Ekosistem dan Ekologi
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk observasi, ialah sistem kuadrat, metode garis, sistem tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan sistem garis dan tata cara intersepsi titik (tata cara tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis ialah suatu tata cara yang memakai cuplikan berupa garis. Penggunaan sistem ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, bila vegetasi sederhana maka garis yang dipakai akan kian pendek. Vegetasi atau komunitas flora ialah salah satu unsur biotik yang menempati habitat tertentu mirip hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Untuk hutan, lazimnya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang dipakai cukup 5 m-10 m. Apabila tata cara ini dipakai pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang berikutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan dipakai untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan selaku jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan diputuskan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tanaman, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tanaman kepada garis yang dibuat Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan sebuah spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan sebuah tata cara analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berbentuktitik. Pada tata cara ini tanaman yang dapat dianalisis cuma satu flora yang betul-betul terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan perihal titik-titik tersebut. Dalam menggunakan sistem ini variable-variabel yang dipakai adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Baca Juga : Tiga Metode Konservasi Tanah dan Air
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur umumnya dinyatakan selaku sebuah persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh suatu nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan selaku dasar perlindungan nama sebuah vegetasi yang diamati.Secara bahu-membahu, kelimpahan dan frekuensi ialah sungguh penting dalam memilih struktur komunitas (Michael, 1995).
Hal yang perlu diperhatikan dalam analisis vegetasi yaitu penarikan unit acuan atau sampel. Dalam pengukuruan dikenal dua jenis pengukuran untuk mendapatkan gosip atau data yang diharapkan. Kedua jenis pengukuran tersebut adalah pengukuran yang bersifat menghancurkan (destructive measures) dan pengukuran yang bersifat tidak menghancurkan (non-destructive measures).
Untuk kebutuhan penelitian biar hasil datanya mampu dianggap sah (valid) secara statistika, penggunaan kedua jenis pengukuran tersebut mutlak harus memakai satuan teladan (sampling unit), apalagi bagi seorang peneliti yang mengambil objek hutan dengan cakupan areal yang luas. Dengan sampling, seorang peneliti/surveyor mampu menemukan gosip/data yang diinginkan lebih cepat dan lebih seksama dengan ongkos dan tenaga lebih minim jikalau daripada inventarisasi sarat (metoda sensus) pada anggota sebuah populasi. Untuk kepentingan deskripsi vegetasi ada tiga macam parameter kuantitatif vegetasi yang sungguh penting yang biasanya diukur dari suatu tipe komunitas tumbuhan adalah kerapatan (density), frekuensi, dan cover (kelindungan) (Irwanto, 2010).
Baca Juga : Klasifikasi Keanekaragaman Hayati
Kerapatan adalah jumlah individu sebuah jenis flora dalam suatu luasan tertentu, contohnya 100 individu/ha.Dalam mengukur kerapatan umumnya timbul sebuah masalah sehubungan dengan imbas tepi (side effect) dan life form (bentuk tumbuhan). Untuk mengukur kerapatan pohon atau bentuk vegetasi yang lain yang mempunyai batang yang gampang dibedakan antara satu dengan yang lain umumnya tidak menyebabkan kesukaran yang berarti. Tetapi, bagi tumbuhan yang menjalar dengan tunas pada buku-bukunya dan berrhizoma (berakar rimpang) akan timbul suatu kesukaran dalam penghitungan individunya. Untuk menangani hal ini, maka kita mesti menciptakan sebuah patokan tersendiri wacana pemahaman individu dari tipe flora tersebut.
Masalah lain yang harus diatasi adalah efek tepi dari kuadrat sehubungan dengan keberadaan sebagian suatu jenis tumbuhan yang berada di tepi kuadrat, sehingga kita harus memutuskan apakah jenis tumbuhan tersebut dianggap berada dalam kuadrat atau di luar kuadrat. Untuk mengatasi hal ini biasanya digunakan perjanjian bahwa bila > 50% dari bab tanaman tersebut berada dalam kuadrat, maka dianggap tumbuhan tersebut berada dalam kuadrat dan tentunya barns dijumlah pengukuran kerapatannya (Irwanto, 2010).
Frekwensi sebuah jenis tanaman yaitu jumlah petak teladan dimana ditemukannya jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibentuk. Biasanya frekwensi dinyatakan dalam besaran persentase. Misalnya jenis Avicennia marina (api-api) didapatkan dalam 50 petak contoh dari 100 petak pola yang dibentuk, sehingga frekwensi jenis api-api tersebut ialah 50/100 x 100% = 50%. Kaprikornus dalam penentuan frekwensi ini tidak ada counting, namun cuma suatu perisalahan tentang keberadaan suatu jenis saja (Irwanto, 2010).
Baca Juga : Konsep Tegakan dan Hutan
Kelindungan adalah proporsi permukaan tanah yang ditutupi oleh proyeksi tajuk tumbuhan. Oleh karena itu, kelindungan selalu dinyatakan dalam satuan persen. Misalnya, jenis Rhizophora apiculata (bakau) mempunyai proyeksi tajuk seluas 10 mZ dalam suatu petak pola seluas 100 m-, maka kelindungan jenis bakau tersebut yaitu 10/100 x 100% = 10%. Jumlah total kelindungan semua jenis tumbuhan dalam sebuah komunitas tanaman mungkin lebih dari 100%, sebab sering proyeksi tajuk dari satu flora dengan tanaman lainnya bertumpang tindih (overlapping). Sebagai pengganti dari luasan areal tajuk, kelindungan bisa juga mengimplikasikan proyeksi basal area pada sebuah luasan permukaan tanah.dan luasannya diukur dengan planimeter atau tata cara dotgrid dengan kertas grafik (Irwanto, 2010).
Basal area ini merupakan sebuah luasan areal bersahabat permukaan tanah yang dikuasai oleh tumbuhan. Untuk pohon, basal area diduga dengan mengukur diameter batang. Dalam hal ini, pengukuran diameter biasanya dilaksanakan pada ketinggian 1.30 m dari permukaan tanah (diameter setinggi data atau diameter at breast height, DBf) (Irwanto, 2010)
Baca Juga : Ilmu Taksonomi Tumbuhan Sumber https://www.atobasahona.com/
Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat berkembang-tumbuhan (Rohman dan Sumberatha, 2001) :
1. Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya.
2. Mempelajari tegakan tumbuh-tanaman bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah yakni sebuah jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Baca : Analisis Vegetasi
Dalam ilmu vegetasi sudah dikembangkan banyak sekali tata cara untuk menganalisis sebuah vegetasi yang sangat menolong dalam mendekripsikan sebuah vegetasi sesuai dengan maksudnya. Dalam hal ini suatu metodologi sungguh meningkat dengan pesat seiring (Syafei, 1990).
Pengamatan parameter vegetasi menurut bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yakni bagian biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tanaman merupakan salah satu unsur biotik yang menempati habitat tertentu mirip hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain (Syafei, 1990).
Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu daerah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang berkembang secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi aneka macam faktor lingkungan dan mampu mengalami pergeseran drastik karena imbas anthropogenik (Setiadi, 1984).
Baca Juga : Perbedaan Ekosistem dan Ekologi
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk observasi, ialah sistem kuadrat, metode garis, sistem tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan sistem garis dan tata cara intersepsi titik (tata cara tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis ialah suatu tata cara yang memakai cuplikan berupa garis. Penggunaan sistem ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, bila vegetasi sederhana maka garis yang dipakai akan kian pendek. Vegetasi atau komunitas flora ialah salah satu unsur biotik yang menempati habitat tertentu mirip hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Untuk hutan, lazimnya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang dipakai cukup 5 m-10 m. Apabila tata cara ini dipakai pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang berikutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan dipakai untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan selaku jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan diputuskan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tanaman, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tanaman kepada garis yang dibuat Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan sebuah spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan sebuah tata cara analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berbentuktitik. Pada tata cara ini tanaman yang dapat dianalisis cuma satu flora yang betul-betul terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan perihal titik-titik tersebut. Dalam menggunakan sistem ini variable-variabel yang dipakai adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Baca Juga : Tiga Metode Konservasi Tanah dan Air
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur umumnya dinyatakan selaku sebuah persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh suatu nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan selaku dasar perlindungan nama sebuah vegetasi yang diamati.Secara bahu-membahu, kelimpahan dan frekuensi ialah sungguh penting dalam memilih struktur komunitas (Michael, 1995).
Hal yang perlu diperhatikan dalam analisis vegetasi yaitu penarikan unit acuan atau sampel. Dalam pengukuruan dikenal dua jenis pengukuran untuk mendapatkan gosip atau data yang diharapkan. Kedua jenis pengukuran tersebut adalah pengukuran yang bersifat menghancurkan (destructive measures) dan pengukuran yang bersifat tidak menghancurkan (non-destructive measures).
Untuk kebutuhan penelitian biar hasil datanya mampu dianggap sah (valid) secara statistika, penggunaan kedua jenis pengukuran tersebut mutlak harus memakai satuan teladan (sampling unit), apalagi bagi seorang peneliti yang mengambil objek hutan dengan cakupan areal yang luas. Dengan sampling, seorang peneliti/surveyor mampu menemukan gosip/data yang diinginkan lebih cepat dan lebih seksama dengan ongkos dan tenaga lebih minim jikalau daripada inventarisasi sarat (metoda sensus) pada anggota sebuah populasi. Untuk kepentingan deskripsi vegetasi ada tiga macam parameter kuantitatif vegetasi yang sungguh penting yang biasanya diukur dari suatu tipe komunitas tumbuhan adalah kerapatan (density), frekuensi, dan cover (kelindungan) (Irwanto, 2010).
Baca Juga : Klasifikasi Keanekaragaman Hayati
Kerapatan adalah jumlah individu sebuah jenis flora dalam suatu luasan tertentu, contohnya 100 individu/ha.Dalam mengukur kerapatan umumnya timbul sebuah masalah sehubungan dengan imbas tepi (side effect) dan life form (bentuk tumbuhan). Untuk mengukur kerapatan pohon atau bentuk vegetasi yang lain yang mempunyai batang yang gampang dibedakan antara satu dengan yang lain umumnya tidak menyebabkan kesukaran yang berarti. Tetapi, bagi tumbuhan yang menjalar dengan tunas pada buku-bukunya dan berrhizoma (berakar rimpang) akan timbul suatu kesukaran dalam penghitungan individunya. Untuk menangani hal ini, maka kita mesti menciptakan sebuah patokan tersendiri wacana pemahaman individu dari tipe flora tersebut.
Masalah lain yang harus diatasi adalah efek tepi dari kuadrat sehubungan dengan keberadaan sebagian suatu jenis tumbuhan yang berada di tepi kuadrat, sehingga kita harus memutuskan apakah jenis tumbuhan tersebut dianggap berada dalam kuadrat atau di luar kuadrat. Untuk mengatasi hal ini biasanya digunakan perjanjian bahwa bila > 50% dari bab tanaman tersebut berada dalam kuadrat, maka dianggap tumbuhan tersebut berada dalam kuadrat dan tentunya barns dijumlah pengukuran kerapatannya (Irwanto, 2010).
Frekwensi sebuah jenis tanaman yaitu jumlah petak teladan dimana ditemukannya jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibentuk. Biasanya frekwensi dinyatakan dalam besaran persentase. Misalnya jenis Avicennia marina (api-api) didapatkan dalam 50 petak contoh dari 100 petak pola yang dibentuk, sehingga frekwensi jenis api-api tersebut ialah 50/100 x 100% = 50%. Kaprikornus dalam penentuan frekwensi ini tidak ada counting, namun cuma suatu perisalahan tentang keberadaan suatu jenis saja (Irwanto, 2010).
Baca Juga : Konsep Tegakan dan Hutan
Kelindungan adalah proporsi permukaan tanah yang ditutupi oleh proyeksi tajuk tumbuhan. Oleh karena itu, kelindungan selalu dinyatakan dalam satuan persen. Misalnya, jenis Rhizophora apiculata (bakau) mempunyai proyeksi tajuk seluas 10 mZ dalam suatu petak pola seluas 100 m-, maka kelindungan jenis bakau tersebut yaitu 10/100 x 100% = 10%. Jumlah total kelindungan semua jenis tumbuhan dalam sebuah komunitas tanaman mungkin lebih dari 100%, sebab sering proyeksi tajuk dari satu flora dengan tanaman lainnya bertumpang tindih (overlapping). Sebagai pengganti dari luasan areal tajuk, kelindungan bisa juga mengimplikasikan proyeksi basal area pada sebuah luasan permukaan tanah.dan luasannya diukur dengan planimeter atau tata cara dotgrid dengan kertas grafik (Irwanto, 2010).
Basal area ini merupakan sebuah luasan areal bersahabat permukaan tanah yang dikuasai oleh tumbuhan. Untuk pohon, basal area diduga dengan mengukur diameter batang. Dalam hal ini, pengukuran diameter biasanya dilaksanakan pada ketinggian 1.30 m dari permukaan tanah (diameter setinggi data atau diameter at breast height, DBf) (Irwanto, 2010)
Baca Juga : Ilmu Taksonomi Tumbuhan Sumber https://www.atobasahona.com/