Puisi Kau Menua Dalam Kekanakan

Menua dalam Kekanakan

Bias waktu, selama kita bareng
Serius dalam kalem yang teramat membisu
Kau menua tetapi senyum kepolosan
Apa kata yang tepat untuk menggambarkanmu ?
Bingung menentukan kata yang tersembunyi di semak-semak rasa ini
Ku sentuh bibirmu dan belai tanganmu
Sayang, kau begitu naif dan menikmati

Pantas saja kau membisu ?
Sebab kenyataan melihatmu dengan membisu
Diammu penuh misteri belaian
Ketika dirombak, kamu menyapa dengam bunyi kekanakan yang menua

Terus teranglah, dibandingkan dengan kau tersenyum sembunyi
Lebih baik menua dan merayu
Dari pada ku bermain dengan waktu
Ini yang kedua dari perpisahan akad
Dan semua berlangsung terang

Senyumlah bareng wajah tuamu
Tataplah paras tuaku
Hingga kamu sadar kita mulai menua
Tinggalkan kepolosan yang bersembunyi bareng egomu
Sebenarnya kita sadar, hanya tak mau menyerah dengan gerak
Nasib diputuskan oleh kita
Takdir cukup dinikmati
Tualah kau sebenar-benarnya
maka akan ku belai rambut tanganmu dan ku bisikan suara merdu

Hingga kau sadar bahwa nirwana benar ada
Dan neraka kita yang gambarkan
Jika neraka berwajah tua, maka biarlah
Jika nirwana berparas kekanak-kanakan maka menualah
Sebab bukan itu yang aku hiraukan tetapi hanya kamu dan Tuhan kita yang menjadi AKU

Sumber https://www.atobasahona.com/

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama