Realitas Kampus Kontemporer Jauh Dari Ekspektasi

Orang sering mengibaratkan kampus seperti bengkel akal fikiran, analogi ini dahulu kongkret alasannya semua problem ilmu pengetahuan dan duduk perkara sosial kemasyarakatan menjadi pembahasan panas, pengkajian mendalam yang sering bergulir pada ruang kelas hingga ke kantin-kantin kampus.

Dunia kampus sekarang, mungkin tidak semua kehilangan aktifitas diatas, namun sebagian besar tentu terlihat. Saya tidak bermaksud menjust kampus yang dikala ini aku terima ilmunya. Tetapi begitulah memprihatinkan bila tidaklah saya berkeluh kesah mengungkit suasana yang mendatangkan kehendak murung yang terngiang dalam hati.

Sekarang aktifitas demikian jarang di temukan terlebih terlihat. Jikalau ingin menyaksikan kita harus siap menelusuri lorong-lorong kampus itupun tergantung hukum keberuntungan. Tentu ada asosiasi mahasiswa melingkar di taman kampus dengan notebook ataupun meja kantin dengan minuman kuliner namun jika di dekati mampu jadi itu cuma aktivitas makan biasa, mencari peran atau sekedar menonton youtube dan Game.

Sungguhlah jauh dari ekspektasi aku dikala mendengar ceritra senior-senior dalam perkaderan oranisasi internal kampus bahwa mahasiswa memiliki tanggungjawab sebagai Agen Of Cange/Agen Perubahan, apalagi saat membaca sejarah perjuangan mahasiswa produk kampus terdahulu yang begitu heroik memperjuangkan kepentingan rakyat.

Saya pernah bermimpi dikala diawal mengenal tanggungjawab besar mahasiswa ini, di sebuah saat Kampus dengan jumlah mahasiswa ribuaan mirip Universitas Sam Ratulangi yang berada dikota manado. Aktif menyelenggarakan forum diskursus formal/nonformal tentang tanggungjawab sosial atau tanggungjawab langsung secara rutin dan di moment lainnya berjuang menuntut kesejahteraan rakyat dengan menyusuri jalanan kota dengan jumlah yang begitu mengagumkan.

Tentulah saya sadari dunia sudah berbedah sampai memanjakan sebagian, alhasil lingkungaan kampus berubah 180 derajat. Dibalik itu kita masih punya peluang mengembalikan aktifitas kritis dengan merekayasa sosial ataupun opsi terakhir mencipta atau menanti datangnya musuh bersama.

Dibalik defisit ini tentu tidaklah salah sebagian mahasiswa meninggalkan aktifitas demikian dan mengedepankan kepentingan demi mengejar IPK tinggi alasannya semua mempunyai alasan dalam pengambilan sikapnya. Namun alangkah indahnya lebih menentukan berupaya menyeimbangkan kepentingan masyarakat dan kepentingan langsung wahai kaum intelektual. !!

Salam kopi hitam

Penulis: Awin Buton
Sumber https://www.atobasahona.com/

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama