Melihat kondisi Indonesia saat ini, tidak lepas dari historis perjuangan para pendiri bangsa yang sudah sukar paya membangun Rumah Merah Putih untuk kita generasi gres yang mau datang, selaku anak cucu bangsa yang hidup di masa 21 layak kita sadari bahwa bangsa ini tidak berdiri sendiri, bangsa ini dibangun dengan semangat perjuangan dan pengorbanan sampai berdarah-darah.
Para pendiri bangsa kita seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Cokroaminoto dll. Mereka semua yaitu orang renta kita yang semasa hidupnya penuh dengan perjuangan biar bangsa ini bisa melepaskan diri dari berbagai bentuk penjajahan dan mampu bangun diatas kaki sendiri (mandiri).
Sekarang kita datang di jaman moderen selaku generasi melenial, kita bebas berlari di atas bumi Pertiwi berkat usaha mereka. Seharusnya kita sadar bahwa, dibawah payung merah putih ada coretan tinta sejarah untuk kita yang kelak akan melanjutkan usaha mereka, mirip kata bapak proklamator kita bahwa. Merdeka hanyalah sebuah jembatan, walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua. Satu ke dunia sama rata sama rasa.., satu ke dunia sama ratap sama tangis.
Lihat juga : Refleksi Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke 73 : Merdeka atau Mati ?
Kata yang penuh makna dan penuhakan nilai perihal hakekat hidup, bahwa negara barada diatas kedaulatan rakyat dan kita bangsa Indonesia semuanya sama tidak ada klas yang membedakan antara satu dengan lainnya alasannya kita ialah bangsa tolong-menolong.
Hal demikian yang perlu diketahui agar kita bisa menjaganya, sebagai anak bangsa yang kelak akan melanjutkan perjuangan bangsa, perlu kita melihat fenomena sosial dikala ini sebagai sebuah tanggung- jawab agar kelak kita bisa menjadi generasi yang menghargai jasa para pahlawannya.
Wahai para cendekiawan mudah sudahkah engkau menyaksikan semuanya bahwa usaha belum final selama bunga kebesaran dan keadilan belum mekar di taman bumi Pertiwi. Maka kita mesti menyiramnya dengan semangat usaha semoga kelak beliau tumbuh subur dan membawa kedamaian untuk kita semua.
Dirgahayu Repulik Indonesia ke 73.
Manado 16 Agustus 2018
Penulis: Sarifudin Tidore Sumber https://www.atobasahona.com/
Para pendiri bangsa kita seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Cokroaminoto dll. Mereka semua yaitu orang renta kita yang semasa hidupnya penuh dengan perjuangan biar bangsa ini bisa melepaskan diri dari berbagai bentuk penjajahan dan mampu bangun diatas kaki sendiri (mandiri).
Sekarang kita datang di jaman moderen selaku generasi melenial, kita bebas berlari di atas bumi Pertiwi berkat usaha mereka. Seharusnya kita sadar bahwa, dibawah payung merah putih ada coretan tinta sejarah untuk kita yang kelak akan melanjutkan usaha mereka, mirip kata bapak proklamator kita bahwa. Merdeka hanyalah sebuah jembatan, walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua. Satu ke dunia sama rata sama rasa.., satu ke dunia sama ratap sama tangis.
Lihat juga : Refleksi Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke 73 : Merdeka atau Mati ?
Kata yang penuh makna dan penuhakan nilai perihal hakekat hidup, bahwa negara barada diatas kedaulatan rakyat dan kita bangsa Indonesia semuanya sama tidak ada klas yang membedakan antara satu dengan lainnya alasannya kita ialah bangsa tolong-menolong.
Hal demikian yang perlu diketahui agar kita bisa menjaganya, sebagai anak bangsa yang kelak akan melanjutkan perjuangan bangsa, perlu kita melihat fenomena sosial dikala ini sebagai sebuah tanggung- jawab agar kelak kita bisa menjadi generasi yang menghargai jasa para pahlawannya.
Wahai para cendekiawan mudah sudahkah engkau menyaksikan semuanya bahwa usaha belum final selama bunga kebesaran dan keadilan belum mekar di taman bumi Pertiwi. Maka kita mesti menyiramnya dengan semangat usaha semoga kelak beliau tumbuh subur dan membawa kedamaian untuk kita semua.
Dirgahayu Repulik Indonesia ke 73.
Manado 16 Agustus 2018
Penulis: Sarifudin Tidore Sumber https://www.atobasahona.com/
Tags:
Tulisan Sahabat