Kak, Ku kira Kau lebih tahu. Tak perlu Ku ajari bagaimana yang terbaik untuk berpengaruh tegar. Saat ini tampak nuranimu sakit. Pun dua bola mata, telah Ku duga menyimpan sebening mata air yang di saat-waktu membasahi muka. Sungguh itu sungguh berat. Tetapi meski begitu, engkau mesti mengenali bahwa; Adikmu telah mendengar lisan curhat yang tunduk keluh dengan ketidakmampuan menghadapi belenggu-belenggu itu. Kak, dengar. Dalam bayang-bayang; menataplah dulu ini Adikmu, Doaku janganlah engkau menyedih meski itu pedih.
Kak, sungguh, ku lihat lelahmu tak sesekali. Tetapi ingat, janganlah engkau terbaring. semua ini mesti kuat-tegar dan yakinlah bahwa Tuhanmu ada. Tuhan pasti tahu dimana Ia memperlihatkan ujian kepada kita, yaitu yang kelak terbatas disangguppi umat-Nya. Kak, meski itu yaitu cobaan yang berat, angkat wajahmu, harus ihklas hadapi semua itu! Jika engkau tegar, halaskan sajaddah-Nya lalu tegap lurus bagaikan aksara alif, merukuk, sujud, dan ber-Doa. ku percaya, meski tak terhingga kuasa-Nya, Tuhan akan memeluk dengan sarat cinta-Nya.
Kak, jikalau semua beban dapat tertukar, dikala ini pulah Aku angkuh. Karena yang Ku fikir kita sudah terlahir dari satu rahim yang tak beda. Rahim itu, tentu rahim Ibu yang sembilan bulan mengandung dan melahirkan kita. Sudah barang pasti jikalau itu sakit, kegilaan dan kegalakkan batin seorang Adik lelaki dikala bernustalgia tak satupun bisa membendungnya. Sebab, prinsip sedarah ; satu sakit, semua sedarah pasti turut merasa sakitpulah. Tenang sajalah Kak, selain berdoa, otak menjadi pemikir untuk berhadap-hadapan dengan biangnya.
Kak, hmm..., harus siap! Keladinya belum terpukul full, waspada. Jika batin Kakak sudah terlatih meski dengan tertatih-tatih, pasti kedepan apapun takdir yang Tuhan berikan tidak terkejut menghadapinya. Bahkan separah-parahnya lemah, takkan terhiraukan di hatinya abang. Dan, dingin saja, jangan lagi bertanya wacana cinta ikhlas dan kasih sayang itu. Karena setulus-tulusnya cinta yang ikhlas, yaitu kepada-Nya dari Pemilik ketulusan cinta dan kasih sayang. Kak, namun tunggu dahulu, kalaupun sekeras-keras batu yang telah mengeras di hati, sesedikitlah melunak dan luangkan potensi waktu untuk menunggu. Menunggu bukan berarti Kakak menerka memperlihatkan waktu untuk membebaskan serta mengangkat derajatnya. Karena sepintar dan seego-egonya insan, waktu yang nanti diberikan Kakak itulah pasti menguburkanya. Sekira Kakak mampu mengerti Isyaratnya.
Kak, kau harus kuat, buat apa harus lemah dengan perlakuan tak nyaman. Apa tak lagi harus duka, janganlah Kak, Agar tak terkesan seperti; kitalah yang kolot dan apakah dianyalah yang pintar? Kan tidak mesti seperti itu, haruslah berpengaruh. Sejatinya Kak, jadikan tiga serupa di sampingmu itu yaitu buah hati terindah yang kelak besar nanti berkhasiat bagi Keluarga, Nusa bangsa, Negara dan Agama. Tidak cuma itu saja, Belum lagi di sekitarhidupmu ada keluarga dari sebelah Ayah dan Ibu. Mereka tak akan membiarkan begitu saja. Jangan khawatir. Kak, menangis apa lagi, semenjak usia kecil kita, kan ujian hidup sudah melatih keras untuk tidak manja meski sakit. Sehingga dari pada itu Kak, jadikanlah pengalaman adalah guru besar dalam hidup dan Doa yaitu munajat cinta yang selemah-lemahnya insan.
Kak. yang terakhir, harus tersenyum riang, meski pahit syukuri kehendaknya. Semogah saja hikma dan mendapat hidayah-Nya, Kakak.
Oleh : Tri P.S. Saleh
Lihat goresan pena Tri P.S. Saleh :
Penulis Polos “Wan-wan” dan Menyinggung Tanda Baca
Paham Dosa...! Tapi Pilihan Harus "Sukses"
Lelaki Buta dan Kerudung Bijak Berhati Malaikat
Oh Tuhan...! Hasrat Birahi dan Bulan Suci
Hujan dan Surat Kepada Tenaga Pengumpul Data (TPD) Sumber https://www.atobasahona.com/
Kak, sungguh, ku lihat lelahmu tak sesekali. Tetapi ingat, janganlah engkau terbaring. semua ini mesti kuat-tegar dan yakinlah bahwa Tuhanmu ada. Tuhan pasti tahu dimana Ia memperlihatkan ujian kepada kita, yaitu yang kelak terbatas disangguppi umat-Nya. Kak, meski itu yaitu cobaan yang berat, angkat wajahmu, harus ihklas hadapi semua itu! Jika engkau tegar, halaskan sajaddah-Nya lalu tegap lurus bagaikan aksara alif, merukuk, sujud, dan ber-Doa. ku percaya, meski tak terhingga kuasa-Nya, Tuhan akan memeluk dengan sarat cinta-Nya.
Kak, jikalau semua beban dapat tertukar, dikala ini pulah Aku angkuh. Karena yang Ku fikir kita sudah terlahir dari satu rahim yang tak beda. Rahim itu, tentu rahim Ibu yang sembilan bulan mengandung dan melahirkan kita. Sudah barang pasti jikalau itu sakit, kegilaan dan kegalakkan batin seorang Adik lelaki dikala bernustalgia tak satupun bisa membendungnya. Sebab, prinsip sedarah ; satu sakit, semua sedarah pasti turut merasa sakitpulah. Tenang sajalah Kak, selain berdoa, otak menjadi pemikir untuk berhadap-hadapan dengan biangnya.
Kak, hmm..., harus siap! Keladinya belum terpukul full, waspada. Jika batin Kakak sudah terlatih meski dengan tertatih-tatih, pasti kedepan apapun takdir yang Tuhan berikan tidak terkejut menghadapinya. Bahkan separah-parahnya lemah, takkan terhiraukan di hatinya abang. Dan, dingin saja, jangan lagi bertanya wacana cinta ikhlas dan kasih sayang itu. Karena setulus-tulusnya cinta yang ikhlas, yaitu kepada-Nya dari Pemilik ketulusan cinta dan kasih sayang. Kak, namun tunggu dahulu, kalaupun sekeras-keras batu yang telah mengeras di hati, sesedikitlah melunak dan luangkan potensi waktu untuk menunggu. Menunggu bukan berarti Kakak menerka memperlihatkan waktu untuk membebaskan serta mengangkat derajatnya. Karena sepintar dan seego-egonya insan, waktu yang nanti diberikan Kakak itulah pasti menguburkanya. Sekira Kakak mampu mengerti Isyaratnya.
Kak, kau harus kuat, buat apa harus lemah dengan perlakuan tak nyaman. Apa tak lagi harus duka, janganlah Kak, Agar tak terkesan seperti; kitalah yang kolot dan apakah dianyalah yang pintar? Kan tidak mesti seperti itu, haruslah berpengaruh. Sejatinya Kak, jadikan tiga serupa di sampingmu itu yaitu buah hati terindah yang kelak besar nanti berkhasiat bagi Keluarga, Nusa bangsa, Negara dan Agama. Tidak cuma itu saja, Belum lagi di sekitarhidupmu ada keluarga dari sebelah Ayah dan Ibu. Mereka tak akan membiarkan begitu saja. Jangan khawatir. Kak, menangis apa lagi, semenjak usia kecil kita, kan ujian hidup sudah melatih keras untuk tidak manja meski sakit. Sehingga dari pada itu Kak, jadikanlah pengalaman adalah guru besar dalam hidup dan Doa yaitu munajat cinta yang selemah-lemahnya insan.
Kak. yang terakhir, harus tersenyum riang, meski pahit syukuri kehendaknya. Semogah saja hikma dan mendapat hidayah-Nya, Kakak.
Oleh : Tri P.S. Saleh
Lihat goresan pena Tri P.S. Saleh :
Penulis Polos “Wan-wan” dan Menyinggung Tanda Baca
Tags:
Tulisan Sahabat