Sesaat menyibukkan diri di rumah dengan aktivitas sehari-hari, entah kenapa datang-tiba terlintas aliran wacana dosa yang bakir. Saya menyadari alasannya adalah hoby menulis sehingga jadi sudah biasa kapan saja mendapatkan khayalan yang lalu dituangkan menjadi tulisan.
Berdosa yang terpelajar, jangan dahulu anda berpikir bahwa arah goresan pena ini megharuskan kita cenderung berbuat dosa namun pandangan baru coretan ini mengingatkan bahwa kita sebagai manusia tak sempurna dan yang pastinya tak pernah luput dari kekhilafan. Dengan menyadari hal itu maka kita juga harus pintar dalam hal khilaf atau sengaja melaksanakan sesuatu yang kita sadari itu berdosa sebab dosa pribadi dan dosa sosial memiliki imbas yang sangat berlainan dalam kehidupan manusia.
Dalam ilmu Agama terdapat pembagian dosa yang terbilang kecil dan besar. Namun pada kesempatan ini aku cuma memandang hal ini dalam konteks biasa kemanusiaan yang memiliki dampak dalam kehidupan bermasyarakat.
Manusia tak pernah luput dari dosa, itulah kenapa kita diharuskan senantiasa berintropeksi diri atau memeriksa (menganggap) diri sendiri setiap dikala. Kadang dalam ketiksengajaan kita berbuat sesuatu yang tak disadari hal itu salah dan akan menyadarinya saat sudah terjadi. Namun acap kali insan menyadari atas sesuatu yang salah tapi tetap melakukannya entah itu alasannya terpaksa atau tidak.
“ Nilailah diri sendiri setiap dikala agar kita menjadi insan yang rendah hati ”
Contoh dosa eksklusif seperti tidak masuk sekolah atau kampus, tidak masuk kerja tanpa argumentasi tertentu (malas), malas belajar dan lain-lain. Tidak masuk sekolah memiliki arti berbuat dosa kepada kedua orang bau tanah atau kelurga yang telah membiayai kita dan hal itu akan sangat memiliki efek pada diri kita sendiri kalau nanti tidak naik kelas atau tertunda kelulusan di bangku kuliah. Tidak masuk kerja alasannya adalah malas memiliki arti kita berdosa pada majikan yang telah membayar kita dengan perjanjian jangka waktu tertentu dan hal itu akan berdampak pada pemberhentian kerja sehingga kita tidak lagi mendapatkan penghasilan. Diatas hanyalah beberapa contoh kasus yang sering kita temui.
Dosa sosial misalnya kita berbohong terhadap publik atau masyarakat dalam dikala momen tertentu, memberikan sesuatu yang salah kepada orang banyak yang mengakibatkan orang-orang tersebut berbuat kesalahan, berbuat asu*ila, mencuri dan lain-lain. Maka dosa-dosa tersebut akan berdampak secara masif (besar) dan pengaruhnya berjalan lama melalui penilain kurang baik terhadap diri kita. Itulah kenapa perbedaan dosa langsung dan dosa sosial sangat signifikan.
Pintar dalam berdosa menjadikan kita lebih hati-hati dalam berpikir dan bertindak. Sehingga khilaf tidak serta merta menyebabkan argumentasi untuk berdosa dan maaf tidak lagi menjadi nirwana pendengaran saat berbuat kesalahan.
“ Maaf ialah kewajiban dan Khilaf milik kita namun semua itu bukan alasan untuk senantiasa berbuat salah “
Benar ! hidup ialah opsi, dalam kondisi apapun kita selalu ada pilihan. Maka pintarlah dalam berbuat salah alasannya Tuhan memperlihatkan anugerah otak insan dengan kapasitas sangat bagus untuk condong melaksanakan hal baik dan memperlihatkan nafsu untuk dikendalikan dengan baik meskipun tak selamanya baik.
Seringlah intropeksi diri alasannya adalah apa yang kita kerjakan tak selamanya kita menyadari kalau hal itu salah, pintarlah dalam bertindak sehingga kita terhindari dari dosa sosial yang memiliki dampak secara masif sehingga kita menjadi orang yang berilmu dalam bertindak bukan orang pintar yang banyak dosa.
Ingin berkomentar ? eksklusif saja ke kolom komentar Sumber https://www.atobasahona.com/
Berdosa yang terpelajar, jangan dahulu anda berpikir bahwa arah goresan pena ini megharuskan kita cenderung berbuat dosa namun pandangan baru coretan ini mengingatkan bahwa kita sebagai manusia tak sempurna dan yang pastinya tak pernah luput dari kekhilafan. Dengan menyadari hal itu maka kita juga harus pintar dalam hal khilaf atau sengaja melaksanakan sesuatu yang kita sadari itu berdosa sebab dosa pribadi dan dosa sosial memiliki imbas yang sangat berlainan dalam kehidupan manusia.
Dalam ilmu Agama terdapat pembagian dosa yang terbilang kecil dan besar. Namun pada kesempatan ini aku cuma memandang hal ini dalam konteks biasa kemanusiaan yang memiliki dampak dalam kehidupan bermasyarakat.
Manusia tak pernah luput dari dosa, itulah kenapa kita diharuskan senantiasa berintropeksi diri atau memeriksa (menganggap) diri sendiri setiap dikala. Kadang dalam ketiksengajaan kita berbuat sesuatu yang tak disadari hal itu salah dan akan menyadarinya saat sudah terjadi. Namun acap kali insan menyadari atas sesuatu yang salah tapi tetap melakukannya entah itu alasannya terpaksa atau tidak.
“ Nilailah diri sendiri setiap dikala agar kita menjadi insan yang rendah hati ”
Contoh dosa eksklusif seperti tidak masuk sekolah atau kampus, tidak masuk kerja tanpa argumentasi tertentu (malas), malas belajar dan lain-lain. Tidak masuk sekolah memiliki arti berbuat dosa kepada kedua orang bau tanah atau kelurga yang telah membiayai kita dan hal itu akan sangat memiliki efek pada diri kita sendiri kalau nanti tidak naik kelas atau tertunda kelulusan di bangku kuliah. Tidak masuk kerja alasannya adalah malas memiliki arti kita berdosa pada majikan yang telah membayar kita dengan perjanjian jangka waktu tertentu dan hal itu akan berdampak pada pemberhentian kerja sehingga kita tidak lagi mendapatkan penghasilan. Diatas hanyalah beberapa contoh kasus yang sering kita temui.
Dosa sosial misalnya kita berbohong terhadap publik atau masyarakat dalam dikala momen tertentu, memberikan sesuatu yang salah kepada orang banyak yang mengakibatkan orang-orang tersebut berbuat kesalahan, berbuat asu*ila, mencuri dan lain-lain. Maka dosa-dosa tersebut akan berdampak secara masif (besar) dan pengaruhnya berjalan lama melalui penilain kurang baik terhadap diri kita. Itulah kenapa perbedaan dosa langsung dan dosa sosial sangat signifikan.
Pintar dalam berdosa menjadikan kita lebih hati-hati dalam berpikir dan bertindak. Sehingga khilaf tidak serta merta menyebabkan argumentasi untuk berdosa dan maaf tidak lagi menjadi nirwana pendengaran saat berbuat kesalahan.
“ Maaf ialah kewajiban dan Khilaf milik kita namun semua itu bukan alasan untuk senantiasa berbuat salah “
Benar ! hidup ialah opsi, dalam kondisi apapun kita selalu ada pilihan. Maka pintarlah dalam berbuat salah alasannya Tuhan memperlihatkan anugerah otak insan dengan kapasitas sangat bagus untuk condong melaksanakan hal baik dan memperlihatkan nafsu untuk dikendalikan dengan baik meskipun tak selamanya baik.
Seringlah intropeksi diri alasannya adalah apa yang kita kerjakan tak selamanya kita menyadari kalau hal itu salah, pintarlah dalam bertindak sehingga kita terhindari dari dosa sosial yang memiliki dampak secara masif sehingga kita menjadi orang yang berilmu dalam bertindak bukan orang pintar yang banyak dosa.
Ingin berkomentar ? eksklusif saja ke kolom komentar Sumber https://www.atobasahona.com/
Tags:
My Inspiration