Pada kesempatan ini saya akan membuatkan tentang acuan ajuan observasi mahasiswa, terutama bagi mahasiswa semester selesai atau menyelesaikan peran akir buat skripi. Sebagai teladan di bawah ini aku berikan acuan usulan observasi aku sendiri ketika menjadi mahasiswa.
Judul dan isinya niscaya akan berlawanan dengan tawaran yang akan anda buat namun yang terpenting disini ialah format penyusunan usulan observasi mahasiswa ini yang dapat anda jadikan selaku teladan dalam menyusunan anjuran penelitian anda sendiri. Anda juga menyaksikan postingan terkait ialah 3 Tips Menentukan Judul Proposal Penelitian Mahasiswa Calon Sarjana
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK DAUN GANDASIL - D TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Gyrinops caudata (Gilg)
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gyrinops caudata yakni salah satu tanaman penghasil gaharu dari famili Thymeleaceae yang tak kalah kualitasnya dibandingkan dengan jenis-jenis lainnya yang ada di Indonesia. Gaharu adalah sejenis kayu dengan banyak sekali bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar anyir, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang berkembang secara alami/di tanam dan telah mati, selaku balasan dari proses abses yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi industri serta dengan pinjaman pergantian paradigma dunia pengebotan untuk mempergunakan flora alami, kini Gaharu diperlukan selain selaku materi pengikat dalam industri parfum (parfum) dan kosmetik, juga diperlukan dunia sebagai materi obat yang aman bagi pengguna.
Baca Juga : Mengenal Tanaman Penghasil Gaharu
Produksi Gaharu semula hanya bersumber dari hutan alam dengan hanya memungut dari pohon mati alami. Kini, peluangbuatan terus menurun, sedangkan nilai guna Gaharu makin kompleks menyebabkan harga jual makin tinggi. Untuk pemenuhan usul pasar, saat ini penduduk memburu Gaharu dengan cara menebang pohon hidup yang mengakibatkan populasi pohon penghasil kian menurun dan sungguh mengancam kelestarian sumber daya serta dapat mengancam dari kepunahan. Dalam upaya konservasi sumber daya alam, serta upaya membina produksi biar tidak tergantung kepada hutan alam solusi alternatif adalah dengan dijalankan pembudidayaan jenis-jenis tanaman penghasil Gaharu.
Pemupukan pada bibit Gyrinops caudata sungguh diharapkan untuk mempercepat perkembangan serta meningkatkan mutu bibit, salah satu pupuk yang dapat dipakai yakni pupuk daun gandasil D.
Pemberian pupuk melalui daun memiliki beberapa keuntungan seperti cepat dan mudah diserap oleh tanaman, kandungan bagian haranya lengkap dan tidak merusak struktur tanah serta berperan dalam kemajuan vegetatif. Agar diperoleh hasil yang bagus, maka perlu dipakai takaran pupuk yang sempurna sesuai dengan kebutuhan tanaman. oleh alasannya itu, perlu dijalankan penelitian tentang pengaruh sumbangan pupuk daun terhadap kemajuan bibit Gyrinops caudata dengan takaran yang berbeda.
1.2 Tujuan Penelitian
Untuk mengenali imbas pupuk daun Gandasil D kepada pertumbuhan bibit Gyrinops caudata
1.3 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini dibutuhkan mampu menunjukkan gosip tentang kesesuaian penggunaan pupuk daun Gandasil D dengan berbagai takaran yang tepat untuk kemajuan bibit Gyrinops caudata yang bagus.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taksonomi
Menurut Gilg (1932), Gyrinops caudata di klasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotylodenae
Ordo : Thymelaeles
Family : Thymelaeaceae
Genus : Gyrinops
Species : Gyrinops caudata (Gilg)
Judul dan isinya niscaya akan berlawanan dengan tawaran yang akan anda buat namun yang terpenting disini ialah format penyusunan usulan observasi mahasiswa ini yang dapat anda jadikan selaku teladan dalam menyusunan anjuran penelitian anda sendiri. Anda juga menyaksikan postingan terkait ialah 3 Tips Menentukan Judul Proposal Penelitian Mahasiswa Calon Sarjana
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK DAUN GANDASIL - D TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Gyrinops caudata (Gilg)
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gyrinops caudata yakni salah satu tanaman penghasil gaharu dari famili Thymeleaceae yang tak kalah kualitasnya dibandingkan dengan jenis-jenis lainnya yang ada di Indonesia. Gaharu adalah sejenis kayu dengan banyak sekali bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar anyir, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang berkembang secara alami/di tanam dan telah mati, selaku balasan dari proses abses yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi industri serta dengan pinjaman pergantian paradigma dunia pengebotan untuk mempergunakan flora alami, kini Gaharu diperlukan selain selaku materi pengikat dalam industri parfum (parfum) dan kosmetik, juga diperlukan dunia sebagai materi obat yang aman bagi pengguna.
Baca Juga : Mengenal Tanaman Penghasil Gaharu
Produksi Gaharu semula hanya bersumber dari hutan alam dengan hanya memungut dari pohon mati alami. Kini, peluangbuatan terus menurun, sedangkan nilai guna Gaharu makin kompleks menyebabkan harga jual makin tinggi. Untuk pemenuhan usul pasar, saat ini penduduk memburu Gaharu dengan cara menebang pohon hidup yang mengakibatkan populasi pohon penghasil kian menurun dan sungguh mengancam kelestarian sumber daya serta dapat mengancam dari kepunahan. Dalam upaya konservasi sumber daya alam, serta upaya membina produksi biar tidak tergantung kepada hutan alam solusi alternatif adalah dengan dijalankan pembudidayaan jenis-jenis tanaman penghasil Gaharu.
Pemupukan pada bibit Gyrinops caudata sungguh diharapkan untuk mempercepat perkembangan serta meningkatkan mutu bibit, salah satu pupuk yang dapat dipakai yakni pupuk daun gandasil D.
Pemberian pupuk melalui daun memiliki beberapa keuntungan seperti cepat dan mudah diserap oleh tanaman, kandungan bagian haranya lengkap dan tidak merusak struktur tanah serta berperan dalam kemajuan vegetatif. Agar diperoleh hasil yang bagus, maka perlu dipakai takaran pupuk yang sempurna sesuai dengan kebutuhan tanaman. oleh alasannya itu, perlu dijalankan penelitian tentang pengaruh sumbangan pupuk daun terhadap kemajuan bibit Gyrinops caudata dengan takaran yang berbeda.
1.2 Tujuan Penelitian
Untuk mengenali imbas pupuk daun Gandasil D kepada pertumbuhan bibit Gyrinops caudata
1.3 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini dibutuhkan mampu menunjukkan gosip tentang kesesuaian penggunaan pupuk daun Gandasil D dengan berbagai takaran yang tepat untuk kemajuan bibit Gyrinops caudata yang bagus.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taksonomi
Menurut Gilg (1932), Gyrinops caudata di klasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotylodenae
Ordo : Thymelaeles
Family : Thymelaeaceae
Genus : Gyrinops
Species : Gyrinops caudata (Gilg)
2.2 Morfologi
Jenis flora penghasil gaharu dari Genus Grynops memiliki ciri dan sifat morfologis ialah pohon dengan tinggi batang yang mampu meraih antara 35-40 m, berdiameter sekitar 60 cm, kulit batang licin, berwarna putih atau keputih-putihan dan berkayu keras. Daun lonjong memanjang dengan ukuran panjang 5-8 cm dan lebar 3-4 cm. Ujung daun runcing, warna daun hijau mengkilap. Bunga berada di ujung ranting atau di ketiak atas dan bawah daun. Buah berada dalam polongan berupa bulat telur atau lonjong, berukuran panjang sekitar 5 cm dan lebar 3 cm. Biji berupa bundar atau bular telur yang tertutup bulu-bulu halus berwarna kemerahan (Siran,S 2007).
2.3 Penyebaran dan Habitat
Penyebaran Tumbuhan penghasil gaharu di Indonesia antara lain terdapat di tempat hutan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Jawa dan untuk Gyrinops caudata penyebaranya di Papua. Secara ekologis jenis-jenis gaharu di Indonesia berkembang pada kawasan dengan ketinggian 0 – 2400 mdpl. Umumnya gaharu yang mempunyai mutu sangat baik, berkembang pada tempat beriklim panas dengan suhu 280 – 340 C, kelembaban 60% - 80%, dengan curah hujan 1000 – 2000 mm/tahun (Sumarna, 2007).
Dapat tumbuh baik pada keadaan tanah yang beragam. Tumbuhan ini dapat tumbuh baik pada kondisi tanah dengan struktur dan tekstur yang subur, sedang, maupun ekstrem. Tumbuhan ini pun dapat dijumpai pada tempat hutan rawa, gambut, hutan dataran rendah, atau hutan pegunungan dengan tekstur tanah berpasir.
2.4 Pemanfaatan
Gaharu mengeluarkan aroma keharuman yang khas, dimanfaatkan untuk materi baku industri wewangian, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis asesoris. Pemanfaatan gaharu masih dalam bentuk produk materi baku, yakni bahan kayu bulatan, cacahan, abu, atau fosil kayu yang sudah terkubur. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi industri, gaharu pun bukan cuma berfaedah sebagai materi industri pengharum, namun juga secara klinis dapat dimanfaatkan sebagai obat.
Dari hasil observasi yang ada, gaharu dikenal bisa mengobati penyakit mirip stres, asma, liver, ginjal, radang lambung, radang usus, rhematik, tumor dan kanker (Anonim, 2003). Beberapa negara mirip Singapura, Cina, Korea, Jepang, dan Amerika Serikat sudah mengembangkan gaharu tersebut selaku materi obat-obatan, seperti penghilang stres, gangguan ginjal, sakit perut, asma, hepatitis, sirosis, pembengkakan liver dan limfa, materi antibiotika untuk TBC, reumatik, kanker, malairia, serta radang lambung. Di Papua gaharu sudah digunakan secara tradisional oleh masyarakatnya untuk pengobatan. Daun, kulit batang, dan akar dipakai selaku bahan pengobatan malaria. Sementara air sulingan (limbah dari proses destilasi gaharu untuk menciptakan minyak atsiri) sungguh berguna untuk merawat tampang dan menghaluskan kulit (Sumarna, 2007).
2.3 Media berkembang
2.3.1 Tanah
Tanah ialah sebuah benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-bagian padat, cair, dan gas yang memiliki sifat fisik yang dinamik. Benda alami ini terbentuk oleh hasil kerja interaksi antara iklim, jasad hidup kepada materi induk yang di pengaruhi oleh tempat terbentuknya. Sebagai sumber daya alam untuk pertanian, tanah mempunyai dua fungsi utama yaitu selaku matriks daerah akar tumbuh berjangkar dan air tanah tersimpan, dan sebagai sumber unsur hara bagi tanaman (Arsyad, 2010).
Di dalam tanah terdapat komponen-bagian sebagai berikut :
1. Mineral : Misalnya kalsium, ferum, magnesium
2. Zat organik : contohnya karbohidrat, protein dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang mati, yang mampu terurai menjadi materi-bahan yang dibutuhkan tumbuhan.
3. Air dan zat-zat yang larut di dalamnya.
4. Udara contohnya Oksigen, karbon dioksida
5. Organisme, contohnya cacing, basil, yang berperan di dalam proses pembusukan sehingga menciptakan komponen-unsur yang diharapkan tumbuhan.
Agar flora tersebut dapat berkembang dengan baik maka ke dalam media tanah tersebut diberikan pupuk atau bagian hara yang diharapkan tumbuhan tersebut.
2.3.2 Pasir
Pasir cukup memadai dan sesuai jika dipakai selaku media untuk penyemaian benih, kemajuan bibit tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan membuat lebih mudah proses pengangkatan bibit flora yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan membuat lebih mudah tegaknya bibt flora. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah akomodasi dalam penggunaan dan dapat mengembangkan tata cara aerasi media tanam.
2.3.3 Pupuk Kandang (Kotoran Ayam)
Pupuk sangkar yakni pupuk yang berasal dari kotoran binatang (ayam)
Penggunaan pupuk kandang menawarkan manfaat antara lain :
1. Dapat menambah tersediaanya materi masakan (unsur hara ) bagi tumbuhan yang dapat di serapnya dari dalam tanah.
2. Pupuk sangkar mempunyai dampak yang bagus kepada sifat fisis dan kimiawi tanah, mendorong kehidupan jasad renik.
3. Pupuk kandang memiliki kemampuan mengganti aneka macam faktor dalam tanah, sehingga menjadi faktor-faktor yang menjamin kesuburan tanah (Sutedjo, 2010).
2.4 Pupuk
Pupuk adalah hara tanaman yang ada dalam tanah, atmosfer, dan dalam kotoran hewan secara alami. Namun hara yang ada itu tidak selalu tersedia dalam bentuk siap dipakai tumbuhan atau jumlahnya tidak mencukupi, jadi mesti disertakan dengan penggunaan pupuk, untuk menolong sekaligus meningkatkan pertumbuhan flora.
Pupuk dapat digolongkan dalam dua kategori, organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-materi mahkluk hidup atau mahkluk hidup yang sudah mati, mencakup kotoran hewan, kompos dan berbagai produk antara dari organisme hidup. Pupuk anorganik yakni pupuk yang berasal dari sumber-sumber yang bukan berasal dari mahkluk hidup dan sebagian besar ialah produksi insan. Pupuk anorganik dan pupuk organik mengandung bagian-unsur yang sama, namun pupuk anorganik mempunyai reaksi yang lebih singkat dibandingkan dengan pupuk organik (Sumekto, 2006).
2.5 Pupuk Daun
Pupuk daun ialah setiap zat pupuk yang diberikan dalam bentuk cairan. Pupuk daun berlawanan dengan pupuk padat. Pupuk padat yang diberikan ke tanah dalam bentuk abu atau cairan harus dilarutkan dahulu oleh air semoga dapat masuk ke dalam tanah dan diserap oleh tanaman sedangkan pupuk daun mampu langsung diserap oleh flora alasannya dalam bentuk cair dan disemprotkan ke daun (Sumekto, 2006).
Pupuk daun Gandasil D merupakan anorganik makro dan mikro, berbentuk serbuk dan khusus buat pertumbuhan vegetatif flora (Sumekto, 2006).
Gandasil D Merupakan pupuk daun lengkap dengan kandungan NPK, Mg dan unsur-komponen hara mikro lainya yang melengkapi yakni : Mn, Bo, Cu, Co, Zn, serta Aneurine (sejenis hormon berkembang). Warna pupuk putih agak kehijaun- hijauan (Sutedjo, 2010).
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini akan dilakukan di lab.Silvikultur (rumah kaca) Program studi Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado dan dilaksanakan selama 2 bulan adalah pada bulan November - Desember 2012.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan materi yang dipakai dalam penelitian ini adalah alat tulis menulis, kamera, gunting, mistar, jangka sorong (kaliper), sprayer, tipe-x, timbangan analitik, tanah, pasir, pupuk sangkar ayam,polibag 20 x 20, pupuk daun gandasi D, dithan M 45 (Fungisida), sevin (insektisida), laptop dan bibit Gyrinops caudata.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang dipakai yaitu sistem eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap ulangan terdiri dari 5 flora. Dengan demikian terdapat 20 bibit Gyrinops Caudata dan tambah 10 flora sebagai cadangan.
Penting : Baca Pengertian Rancangan Acak Lengkap (RAL)
Perlakuan yang diberikan yaitu :
1.Perlakuan A kontrol dengan fokus 0 gr/liter air (Dosis 0 gr /tumbuhan)
2.Perlakuan B dengan fokus 2 gr/liter air (Dosis 0,12 gr/tanaman)
3.Perlakuan C dengan konsentrasi 4 gr/liter air (Dosis 0,24 gr /tumbuhan)
4.Perlakuan D dengan konsentrasi 6 gr/liter air (Dosis 0,36 gr /tanaman)
Variabel yang diperhatikan :
· Tinggi
· Diameter batang (3 cm dari pangkal)
· Jumlah daun
3.4 Analisis Data
Data yang diperoleh dari variabel yang diamati ialah tinggi tumbuhan, diameter batang dan jumlah daun akan dianalisis menggunakan analisis keanekaragaman (Analisis of varians) pada taraf kasatmata 5%, untuk menyaksikan dampak dosis tertentu kepada pertumbuhan dan perkembangan dari bibit Gyrinops caudata. Apabila alhasil signifikan maka analisis akan dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil).
3.5 Prosedur kerja
1. Penyiapan media
Dalam observasi ini akan memakai media tanam yakni tanah, pasir, dan pupuk kandang (kotoran ayam). Sebelum media dicampur terlebih dahulu disterilkan dengan cara dijemur selama 2 minggu, sehabis itu barulah media diaduk dengan perbandingan 1:1:1: kemudian di masukan kedalam polibag ukuran 20x20.
2. Penyiapan bibit
Bibit yang akan dipakai berumur 3 Bulan
3. Pemindahan bibit
Bibit yang pada mulanya berada pada polibag berskala 10x15, di pindahkan ke polibag 20x20 yang telah terdapat media tanam yang sudah di campur dan di sterilkan.
4. Pemberian label
Tiap sampel tumbuhan yang mau di perhatikan diberikan label sesuai dengan jumlah perlakuan dan ulangan.
5. Penempatan bibit
Bibit diposisikan di lokasi yang sudah disediakan didalam rumah kaca. Penempatan bibit akan diacak dengan cara diundi menurut label yang telah diberikan. Jarak antar tumbuhan di dalam setiap satuan percobaan yakni 50 x 20 cm, penentuan jarak sangat dibutuhkan supaya tiap tanaman tidak terpengaruh oleh penyemprotan pupuk dari tanaman lain.
6. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara menyemprotkan Dettin-45 (Fungisida) atau sevin (insektisida) dengan takaran 1 gram/liter air disemprotkan ke semua flora memakai sprayer. Penyemprotan dilakukan jika ada indikasi gejala hama dan penyakit.
7. Pengambilan data
Pengambilan data awal dilakukan 1 hari sebelum tunjangan pupuk daun Gandasil D. Pengambilan data selanjutnya dilaksanakan seminggu sekali.
1. Pengukuran tinggi
Tinggi tumbuhan diukur dari permukaan tanah hingga pada ujung daun terakhir (Kuncup)
2. Pengukuran diameter
Diameter tanaman diukur 3 cm dari permukaan tanah.
3. Jumla daun
Jumlah daun dijumlah dari daun pertama yang berada didekat pangkal hingga duduk daun terakhir (daun tepat). Kuncup daun muda tidak tergolong dalam hitungan.
Pengambilan data dari variabel yang diperhatikan berbentuktinggi, diameter batang dan jumlah daun dikerjakan setiap sepekan sekali dengan interval waktu yang serupa selama 2 bulan, dengan pengambilan data sebanyak 8 kali.
8. Pemberian pupuk daun Gandasil D
Pemberian pupuk daun dilaksanakan pada pagi hari antara jam 7.00-9.00 wita. Pupuk disemprotkan pada permukaan daun dan bab bawah permukaan daun sebanyak 6 ml air, dukungan pupuk daun dijalankan tiap seminggu sekali dengan interval waktu yang sama, selama dua bulan.
Jenis flora penghasil gaharu dari Genus Grynops memiliki ciri dan sifat morfologis ialah pohon dengan tinggi batang yang mampu meraih antara 35-40 m, berdiameter sekitar 60 cm, kulit batang licin, berwarna putih atau keputih-putihan dan berkayu keras. Daun lonjong memanjang dengan ukuran panjang 5-8 cm dan lebar 3-4 cm. Ujung daun runcing, warna daun hijau mengkilap. Bunga berada di ujung ranting atau di ketiak atas dan bawah daun. Buah berada dalam polongan berupa bulat telur atau lonjong, berukuran panjang sekitar 5 cm dan lebar 3 cm. Biji berupa bundar atau bular telur yang tertutup bulu-bulu halus berwarna kemerahan (Siran,S 2007).
2.3 Penyebaran dan Habitat
Penyebaran Tumbuhan penghasil gaharu di Indonesia antara lain terdapat di tempat hutan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Jawa dan untuk Gyrinops caudata penyebaranya di Papua. Secara ekologis jenis-jenis gaharu di Indonesia berkembang pada kawasan dengan ketinggian 0 – 2400 mdpl. Umumnya gaharu yang mempunyai mutu sangat baik, berkembang pada tempat beriklim panas dengan suhu 280 – 340 C, kelembaban 60% - 80%, dengan curah hujan 1000 – 2000 mm/tahun (Sumarna, 2007).
Dapat tumbuh baik pada keadaan tanah yang beragam. Tumbuhan ini dapat tumbuh baik pada kondisi tanah dengan struktur dan tekstur yang subur, sedang, maupun ekstrem. Tumbuhan ini pun dapat dijumpai pada tempat hutan rawa, gambut, hutan dataran rendah, atau hutan pegunungan dengan tekstur tanah berpasir.
2.4 Pemanfaatan
Gaharu mengeluarkan aroma keharuman yang khas, dimanfaatkan untuk materi baku industri wewangian, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis asesoris. Pemanfaatan gaharu masih dalam bentuk produk materi baku, yakni bahan kayu bulatan, cacahan, abu, atau fosil kayu yang sudah terkubur. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi industri, gaharu pun bukan cuma berfaedah sebagai materi industri pengharum, namun juga secara klinis dapat dimanfaatkan sebagai obat.
Dari hasil observasi yang ada, gaharu dikenal bisa mengobati penyakit mirip stres, asma, liver, ginjal, radang lambung, radang usus, rhematik, tumor dan kanker (Anonim, 2003). Beberapa negara mirip Singapura, Cina, Korea, Jepang, dan Amerika Serikat sudah mengembangkan gaharu tersebut selaku materi obat-obatan, seperti penghilang stres, gangguan ginjal, sakit perut, asma, hepatitis, sirosis, pembengkakan liver dan limfa, materi antibiotika untuk TBC, reumatik, kanker, malairia, serta radang lambung. Di Papua gaharu sudah digunakan secara tradisional oleh masyarakatnya untuk pengobatan. Daun, kulit batang, dan akar dipakai selaku bahan pengobatan malaria. Sementara air sulingan (limbah dari proses destilasi gaharu untuk menciptakan minyak atsiri) sungguh berguna untuk merawat tampang dan menghaluskan kulit (Sumarna, 2007).
2.3 Media berkembang
2.3.1 Tanah
Tanah ialah sebuah benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-bagian padat, cair, dan gas yang memiliki sifat fisik yang dinamik. Benda alami ini terbentuk oleh hasil kerja interaksi antara iklim, jasad hidup kepada materi induk yang di pengaruhi oleh tempat terbentuknya. Sebagai sumber daya alam untuk pertanian, tanah mempunyai dua fungsi utama yaitu selaku matriks daerah akar tumbuh berjangkar dan air tanah tersimpan, dan sebagai sumber unsur hara bagi tanaman (Arsyad, 2010).
Di dalam tanah terdapat komponen-bagian sebagai berikut :
1. Mineral : Misalnya kalsium, ferum, magnesium
2. Zat organik : contohnya karbohidrat, protein dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang mati, yang mampu terurai menjadi materi-bahan yang dibutuhkan tumbuhan.
3. Air dan zat-zat yang larut di dalamnya.
4. Udara contohnya Oksigen, karbon dioksida
5. Organisme, contohnya cacing, basil, yang berperan di dalam proses pembusukan sehingga menciptakan komponen-unsur yang diharapkan tumbuhan.
Agar flora tersebut dapat berkembang dengan baik maka ke dalam media tanah tersebut diberikan pupuk atau bagian hara yang diharapkan tumbuhan tersebut.
2.3.2 Pasir
Pasir cukup memadai dan sesuai jika dipakai selaku media untuk penyemaian benih, kemajuan bibit tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan membuat lebih mudah proses pengangkatan bibit flora yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan membuat lebih mudah tegaknya bibt flora. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah akomodasi dalam penggunaan dan dapat mengembangkan tata cara aerasi media tanam.
2.3.3 Pupuk Kandang (Kotoran Ayam)
Pupuk sangkar yakni pupuk yang berasal dari kotoran binatang (ayam)
Penggunaan pupuk kandang menawarkan manfaat antara lain :
1. Dapat menambah tersediaanya materi masakan (unsur hara ) bagi tumbuhan yang dapat di serapnya dari dalam tanah.
2. Pupuk sangkar mempunyai dampak yang bagus kepada sifat fisis dan kimiawi tanah, mendorong kehidupan jasad renik.
3. Pupuk kandang memiliki kemampuan mengganti aneka macam faktor dalam tanah, sehingga menjadi faktor-faktor yang menjamin kesuburan tanah (Sutedjo, 2010).
2.4 Pupuk
Pupuk adalah hara tanaman yang ada dalam tanah, atmosfer, dan dalam kotoran hewan secara alami. Namun hara yang ada itu tidak selalu tersedia dalam bentuk siap dipakai tumbuhan atau jumlahnya tidak mencukupi, jadi mesti disertakan dengan penggunaan pupuk, untuk menolong sekaligus meningkatkan pertumbuhan flora.
Pupuk dapat digolongkan dalam dua kategori, organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-materi mahkluk hidup atau mahkluk hidup yang sudah mati, mencakup kotoran hewan, kompos dan berbagai produk antara dari organisme hidup. Pupuk anorganik yakni pupuk yang berasal dari sumber-sumber yang bukan berasal dari mahkluk hidup dan sebagian besar ialah produksi insan. Pupuk anorganik dan pupuk organik mengandung bagian-unsur yang sama, namun pupuk anorganik mempunyai reaksi yang lebih singkat dibandingkan dengan pupuk organik (Sumekto, 2006).
2.5 Pupuk Daun
Pupuk daun ialah setiap zat pupuk yang diberikan dalam bentuk cairan. Pupuk daun berlawanan dengan pupuk padat. Pupuk padat yang diberikan ke tanah dalam bentuk abu atau cairan harus dilarutkan dahulu oleh air semoga dapat masuk ke dalam tanah dan diserap oleh tanaman sedangkan pupuk daun mampu langsung diserap oleh flora alasannya dalam bentuk cair dan disemprotkan ke daun (Sumekto, 2006).
Pupuk daun Gandasil D merupakan anorganik makro dan mikro, berbentuk serbuk dan khusus buat pertumbuhan vegetatif flora (Sumekto, 2006).
Gandasil D Merupakan pupuk daun lengkap dengan kandungan NPK, Mg dan unsur-komponen hara mikro lainya yang melengkapi yakni : Mn, Bo, Cu, Co, Zn, serta Aneurine (sejenis hormon berkembang). Warna pupuk putih agak kehijaun- hijauan (Sutedjo, 2010).
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini akan dilakukan di lab.Silvikultur (rumah kaca) Program studi Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado dan dilaksanakan selama 2 bulan adalah pada bulan November - Desember 2012.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan materi yang dipakai dalam penelitian ini adalah alat tulis menulis, kamera, gunting, mistar, jangka sorong (kaliper), sprayer, tipe-x, timbangan analitik, tanah, pasir, pupuk sangkar ayam,polibag 20 x 20, pupuk daun gandasi D, dithan M 45 (Fungisida), sevin (insektisida), laptop dan bibit Gyrinops caudata.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang dipakai yaitu sistem eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap ulangan terdiri dari 5 flora. Dengan demikian terdapat 20 bibit Gyrinops Caudata dan tambah 10 flora sebagai cadangan.
Penting : Baca Pengertian Rancangan Acak Lengkap (RAL)
Perlakuan yang diberikan yaitu :
1.Perlakuan A kontrol dengan fokus 0 gr/liter air (Dosis 0 gr /tumbuhan)
2.Perlakuan B dengan fokus 2 gr/liter air (Dosis 0,12 gr/tanaman)
3.Perlakuan C dengan konsentrasi 4 gr/liter air (Dosis 0,24 gr /tumbuhan)
4.Perlakuan D dengan konsentrasi 6 gr/liter air (Dosis 0,36 gr /tanaman)
Variabel yang diperhatikan :
· Tinggi
· Diameter batang (3 cm dari pangkal)
· Jumlah daun
3.4 Analisis Data
Data yang diperoleh dari variabel yang diamati ialah tinggi tumbuhan, diameter batang dan jumlah daun akan dianalisis menggunakan analisis keanekaragaman (Analisis of varians) pada taraf kasatmata 5%, untuk menyaksikan dampak dosis tertentu kepada pertumbuhan dan perkembangan dari bibit Gyrinops caudata. Apabila alhasil signifikan maka analisis akan dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil).
3.5 Prosedur kerja
1. Penyiapan media
Dalam observasi ini akan memakai media tanam yakni tanah, pasir, dan pupuk kandang (kotoran ayam). Sebelum media dicampur terlebih dahulu disterilkan dengan cara dijemur selama 2 minggu, sehabis itu barulah media diaduk dengan perbandingan 1:1:1: kemudian di masukan kedalam polibag ukuran 20x20.
2. Penyiapan bibit
Bibit yang akan dipakai berumur 3 Bulan
3. Pemindahan bibit
Bibit yang pada mulanya berada pada polibag berskala 10x15, di pindahkan ke polibag 20x20 yang telah terdapat media tanam yang sudah di campur dan di sterilkan.
4. Pemberian label
Tiap sampel tumbuhan yang mau di perhatikan diberikan label sesuai dengan jumlah perlakuan dan ulangan.
5. Penempatan bibit
Bibit diposisikan di lokasi yang sudah disediakan didalam rumah kaca. Penempatan bibit akan diacak dengan cara diundi menurut label yang telah diberikan. Jarak antar tumbuhan di dalam setiap satuan percobaan yakni 50 x 20 cm, penentuan jarak sangat dibutuhkan supaya tiap tanaman tidak terpengaruh oleh penyemprotan pupuk dari tanaman lain.
6. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara menyemprotkan Dettin-45 (Fungisida) atau sevin (insektisida) dengan takaran 1 gram/liter air disemprotkan ke semua flora memakai sprayer. Penyemprotan dilakukan jika ada indikasi gejala hama dan penyakit.
7. Pengambilan data
Pengambilan data awal dilakukan 1 hari sebelum tunjangan pupuk daun Gandasil D. Pengambilan data selanjutnya dilaksanakan seminggu sekali.
1. Pengukuran tinggi
Tinggi tumbuhan diukur dari permukaan tanah hingga pada ujung daun terakhir (Kuncup)
2. Pengukuran diameter
Diameter tanaman diukur 3 cm dari permukaan tanah.
3. Jumla daun
Jumlah daun dijumlah dari daun pertama yang berada didekat pangkal hingga duduk daun terakhir (daun tepat). Kuncup daun muda tidak tergolong dalam hitungan.
Pengambilan data dari variabel yang diperhatikan berbentuktinggi, diameter batang dan jumlah daun dikerjakan setiap sepekan sekali dengan interval waktu yang serupa selama 2 bulan, dengan pengambilan data sebanyak 8 kali.
8. Pemberian pupuk daun Gandasil D
Pemberian pupuk daun dilaksanakan pada pagi hari antara jam 7.00-9.00 wita. Pupuk disemprotkan pada permukaan daun dan bab bawah permukaan daun sebanyak 6 ml air, dukungan pupuk daun dijalankan tiap seminggu sekali dengan interval waktu yang sama, selama dua bulan.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S.2010.Konservasi Tanah dan Air. Bogor : IPB Press
Balai Pengelolaan Daerah ajaran sungai Serayu Opak Progo.2008.Budidaya gaharu.Yogyakarta : Depertemen Kehutanan
Daha, L .2011. Rancangan Percobaan Untuk Bidang Biologi dan Pertanian. Makassar : MASAGENA PRESS
Murbandono, 2000. Manfaat Bahan Organik bagi tanaman. Puslit Biologi, LIPI, Bogor.
Rosmarkam, A dan Nasih W.Y. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Kanisius
Siran, S dan Juliaty, N. 2007. Gaharu Komoditi Masa Depan yang Menjanjikan.Kalimantan : Balai Litbang Kehutanan
Sumekto,R.2006. Pupuk Daun.Yogyakarta : Citra Aji Parama.
Sumarna Y. 2007. Budidaya Gaharu. Seri Agribisnis. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sumarna, Y. 2009. Gaharu Budidaya dan Rekayasa Produksi. Jakarta : Penebar Swadaya
Sutedjo, M. 2010. Pupuk dan Cara Pemukan. Jakarta : Rineka Cipta
Demikian teladan format usulan penelitian mahasiswa untuk semester akhir, supaya bermanfaat dan anda cepat menuntaskan penelitiannya.
Sumber https://www.atobasahona.com/
Arsyad, S.2010.Konservasi Tanah dan Air. Bogor : IPB Press
Balai Pengelolaan Daerah ajaran sungai Serayu Opak Progo.2008.Budidaya gaharu.Yogyakarta : Depertemen Kehutanan
Daha, L .2011. Rancangan Percobaan Untuk Bidang Biologi dan Pertanian. Makassar : MASAGENA PRESS
Murbandono, 2000. Manfaat Bahan Organik bagi tanaman. Puslit Biologi, LIPI, Bogor.
Rosmarkam, A dan Nasih W.Y. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Kanisius
Siran, S dan Juliaty, N. 2007. Gaharu Komoditi Masa Depan yang Menjanjikan.Kalimantan : Balai Litbang Kehutanan
Sumekto,R.2006. Pupuk Daun.Yogyakarta : Citra Aji Parama.
Sumarna Y. 2007. Budidaya Gaharu. Seri Agribisnis. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sumarna, Y. 2009. Gaharu Budidaya dan Rekayasa Produksi. Jakarta : Penebar Swadaya
Sutedjo, M. 2010. Pupuk dan Cara Pemukan. Jakarta : Rineka Cipta
Demikian teladan format usulan penelitian mahasiswa untuk semester akhir, supaya bermanfaat dan anda cepat menuntaskan penelitiannya.
Tags:
Silvikultur