Barangkali tak aneh lagi dengan kata politisi dan negarawan, Dua kata itu acapkali digunakan untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan politik. Tak cuma itu, kata politikus, contohnya, sering disamakan pula dengan tikus alasannya adalah padanya melekat bentuk tikus.
Penyamaan itu cenderung lebih bersifat konotasi. Ini terbukti dikala ditanyakan, apa itu politikus? Jawaban sebagian orang adalah tikus-tikus rakyat, sebaliknya negarawan yang dianggap hanya berada sempurna pada pemimpin negara ataupun mantan pemimpin negara. Pada goresan pena kali ini, aku akan mencoba membicarakan perbedaan keduanya tentang konotasi kata sesuai pengertiannya.
Politikus/Politisi
Sebagai wawasan bahwa penyebab perbedaan kedua kata sebab Politisi diserap dari bahasa Inggris, yakni politician. Sebaliknya, politikus diserap dari bahasa Belanda, yaitu politicus. Makna yang sedikit berbedah jikalau di pakai dalam berargumentasi. Sebab politikus bermakna imdividu sebaliknya bersifat jamak.
Di kutip dari Wikipedia Politikus (jamak : politisi) yaitu seseorang yang terlibat dalam politik, sering kali juga termasuk para ahli politik, dan figure politik yang ikut dalam pemerintahan.
Jika disebut perumpamaan politikus maka yang terbayang ialah anggota partai politik, anggota DPR, atau manusia politik yang lebih mementingkan kepentingan langsung dan kalangan dibandingkan kepentingan rakyat, yang senang menyantap uang rakyat, serta hal-hal negatif yang lain.
Stigma ini terbentuk alasannya adalah kenyataan yang terjadi banyak para penggiat politik yang terjerat kasus korupsi, penyuapan yang begitu memaksa masyarakat memandang bahwa politikus atau politisi bukanlah pekerjaan yang rill untuk kepentingan rakyat. Terlebih dikala melihat tingkah laris para elit politik kontemporer yang oreantasinya yang tak terang dan terkesan mengesampingkan kepentingan rakyat hingga makin memperkuay stigma ini.
Padahal sebaliknya jika dilihat dari sudut pandang fungsi politisi, politisi ialah orang yang membahas pengelolaan kekuasaan untuk kepentingan mensejahterakan rakyat. Namun sepanjang yang di lihat teori bertolak belakang dengan kenyataan.
Negarawan
Arti Negarawan dalam KBBI yaitu mahir dalam kenegaraan; ahli dalam melakukan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan sebuah persepsi ke depan atau mengurus dilema negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan.
Seorang negarawan ialah seorang politisi tetapi seorang politisi bukan negarawan. Negarawan memakai politik (bukan partai politik) untuk kepentingan bangsa dan negara sedangkan politisi menggunakan politik (partai politik) untuk kepentingan menang dan kalah.
Mengacuh dari pertimbangan kedua pengamat politik di atas menandakan betapa jauhnya perbedaan politisi dan negarawan diatas. Tak heran jikalau banyak para hebat yang mengunggulkan seorang negarawan dan tanpa pandang bulu mengkritik politisi yang di anggap donasi untuk negaranya cenderung berasaskan kepentingan sesaat tanpa menimbang-nimbang perjuangan atas nama kepentingan rakyat banyak.
Kalaulah kita mencoba membuat perbedaan dari Para politisi atau pejuang kemerdekaan dahulu yang berdiskusi membahasa suatu kepentingan hingga berbedah pertimbangan namun tak saling melegetimasi kekuasan seperti sekarang, karena para pendahulu sadar bahwa sikap seperi itu tidaklah kuat kepada pertumbuhan negara dan kemakmuran bagi masyarakat.
Terlebih para pendahulu misalnya Ir. Soekarno, M. Hatta dan syahrir berbedah usulan namun tak berbedah tujuan, inilah bentuk paham negarawan bukan politisi yang lebih kepada kepentingan eksklusif maupun kelompok yang tercipta pada dunia politik kontemporer.
Demikian perbedaan signifikan yang coba di elaborasi, anda bisa menentukan dari keduanya dan mengambil keputusan menentukan berpolitik mirip apa anda nantinya.
Penulis: Awin Buton Sumber https://www.atobasahona.com/
Penyamaan itu cenderung lebih bersifat konotasi. Ini terbukti dikala ditanyakan, apa itu politikus? Jawaban sebagian orang adalah tikus-tikus rakyat, sebaliknya negarawan yang dianggap hanya berada sempurna pada pemimpin negara ataupun mantan pemimpin negara. Pada goresan pena kali ini, aku akan mencoba membicarakan perbedaan keduanya tentang konotasi kata sesuai pengertiannya.
Politikus/Politisi
Sebagai wawasan bahwa penyebab perbedaan kedua kata sebab Politisi diserap dari bahasa Inggris, yakni politician. Sebaliknya, politikus diserap dari bahasa Belanda, yaitu politicus. Makna yang sedikit berbedah jikalau di pakai dalam berargumentasi. Sebab politikus bermakna imdividu sebaliknya bersifat jamak.
Di kutip dari Wikipedia Politikus (jamak : politisi) yaitu seseorang yang terlibat dalam politik, sering kali juga termasuk para ahli politik, dan figure politik yang ikut dalam pemerintahan.
Jika disebut perumpamaan politikus maka yang terbayang ialah anggota partai politik, anggota DPR, atau manusia politik yang lebih mementingkan kepentingan langsung dan kalangan dibandingkan kepentingan rakyat, yang senang menyantap uang rakyat, serta hal-hal negatif yang lain.
Stigma ini terbentuk alasannya adalah kenyataan yang terjadi banyak para penggiat politik yang terjerat kasus korupsi, penyuapan yang begitu memaksa masyarakat memandang bahwa politikus atau politisi bukanlah pekerjaan yang rill untuk kepentingan rakyat. Terlebih dikala melihat tingkah laris para elit politik kontemporer yang oreantasinya yang tak terang dan terkesan mengesampingkan kepentingan rakyat hingga makin memperkuay stigma ini.
Padahal sebaliknya jika dilihat dari sudut pandang fungsi politisi, politisi ialah orang yang membahas pengelolaan kekuasaan untuk kepentingan mensejahterakan rakyat. Namun sepanjang yang di lihat teori bertolak belakang dengan kenyataan.
Negarawan
Arti Negarawan dalam KBBI yaitu mahir dalam kenegaraan; ahli dalam melakukan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan sebuah persepsi ke depan atau mengurus dilema negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan.
Seorang negarawan ialah seorang politisi tetapi seorang politisi bukan negarawan. Negarawan memakai politik (bukan partai politik) untuk kepentingan bangsa dan negara sedangkan politisi menggunakan politik (partai politik) untuk kepentingan menang dan kalah.
Menurut M. Solly Lubis, negarawan merupakan figur-figur yang punya visi kenegarawan dengan futuristic view yang mampu memperhitungkan kepentingan bangsa dan negara untuk abad waktu yang panjang, jauh ke depan, tidak sekedar untuk jangka pendek secara pragmatis.
Negarawan sejatinya memiliki visi strategis yang cenderung melihat jauh ke depan bagi kepentingan bangsa dan negaranya, bahkan tanpa pamrih untuk merebut keuntungan pribadinya sesaat. Analisisnya lebih mendasar (grounded), tidak sekedar pragmatis terlebih mempergunakan kesempatan untuk kepentingan politik diri sendiri atau kelompoknya, sebagaimana figur politisi pada umumnya. Sementara itu, seorang politisi belum tentu mampu mencapai level negarawan, namun negarawan pasti memiliki kapasitas sebagai politisi, bahkan memiliki nilai tambah, lebih dari sekedar politisi. (M. Solly Lubis: 1996)
Dan menurut Pengamat politik dari Reform Institute, Yudi Latif, menilai Indonesia banyak memiliki politikus, namun sungguh sedikit negarawan. "Negarawan memperlihatkan jiwa raganya untuk negara, sedangkan politikus mencari sesuatu untuk jiwa raganya dari negara," menegaskan, negarawan tidak kaya. Dia mencontohkan, para pendiri bangsa yang merelakan jiwa raganya untuk usaha kemerdekaan Indonesia, hidupnya biasa saja.
Negarawan sejatinya memiliki visi strategis yang cenderung melihat jauh ke depan bagi kepentingan bangsa dan negaranya, bahkan tanpa pamrih untuk merebut keuntungan pribadinya sesaat. Analisisnya lebih mendasar (grounded), tidak sekedar pragmatis terlebih mempergunakan kesempatan untuk kepentingan politik diri sendiri atau kelompoknya, sebagaimana figur politisi pada umumnya. Sementara itu, seorang politisi belum tentu mampu mencapai level negarawan, namun negarawan pasti memiliki kapasitas sebagai politisi, bahkan memiliki nilai tambah, lebih dari sekedar politisi. (M. Solly Lubis: 1996)
Dan menurut Pengamat politik dari Reform Institute, Yudi Latif, menilai Indonesia banyak memiliki politikus, namun sungguh sedikit negarawan. "Negarawan memperlihatkan jiwa raganya untuk negara, sedangkan politikus mencari sesuatu untuk jiwa raganya dari negara," menegaskan, negarawan tidak kaya. Dia mencontohkan, para pendiri bangsa yang merelakan jiwa raganya untuk usaha kemerdekaan Indonesia, hidupnya biasa saja.
Mengacuh dari pertimbangan kedua pengamat politik di atas menandakan betapa jauhnya perbedaan politisi dan negarawan diatas. Tak heran jikalau banyak para hebat yang mengunggulkan seorang negarawan dan tanpa pandang bulu mengkritik politisi yang di anggap donasi untuk negaranya cenderung berasaskan kepentingan sesaat tanpa menimbang-nimbang perjuangan atas nama kepentingan rakyat banyak.
Kalaulah kita mencoba membuat perbedaan dari Para politisi atau pejuang kemerdekaan dahulu yang berdiskusi membahasa suatu kepentingan hingga berbedah pertimbangan namun tak saling melegetimasi kekuasan seperti sekarang, karena para pendahulu sadar bahwa sikap seperi itu tidaklah kuat kepada pertumbuhan negara dan kemakmuran bagi masyarakat.
Terlebih para pendahulu misalnya Ir. Soekarno, M. Hatta dan syahrir berbedah usulan namun tak berbedah tujuan, inilah bentuk paham negarawan bukan politisi yang lebih kepada kepentingan eksklusif maupun kelompok yang tercipta pada dunia politik kontemporer.
Demikian perbedaan signifikan yang coba di elaborasi, anda bisa menentukan dari keduanya dan mengambil keputusan menentukan berpolitik mirip apa anda nantinya.
Penulis: Awin Buton