Saat Orang Yang Penurut Mulai Membangkang Saat Itulah Kita Mesti Berintropeksi Diri

Ingatlah Ketika Orang yang Penurut Mulai Membangkang Saat Itulah Kita Harus Berintropeksi Diri - Hari mulai menjelang sore, jam dinding sempurna mengisyaratkan pukul 15.00, Handphone Dion mulai kehabisan batrei yang terlihat dilayar telepon genggamnya. Tempat dimana ia melakukan pekerjaan telah umumnya akan ramai saat detik-detik menjelang pulang.

Ramai dengan karyawan-karyawan yang bersiap menuntaskan waktu kerja untuk kembali ke istana mereka, tempat tinggal sang ratu (istri) dan bawah umur mereka. Beberapa orang yang masih berstatus bujang pun beraktivitas yang sama menjelang pulang. Mungkin semua sudah mempunyai planning masing-masing.

Hujan masih terus tertawa seakan dan terlihat nayaman membasahi tanah-tanah yang merindu. Dion termasuk salah satu karyawan yang sangat bersungguh-sungguh dan penurut, apa saja dilakukan saat diperintah atasannya atau karyawan seniornya terkait pekerjaan.

“ lakukan sesuatu dengan senang maka semua akan terasa ringan ”

Ruang sebelah terdengar ramai dengan candaan sahabat-sobat sekantor yang melepas lelah sejenak menjelang waktu pulang. Keakraban Dion dengan dinding ruang sebelah menggerakan langkahnya untuk bergabung karena dia sendiri bahagia becanda.

“ Dion ! Dion !” terdengar bunyi Adit mengundang sambil berlangsung cepat dari ruangan kerja mereka.

“ Ini ada telepon dari bos ” kata Adit sedikit buru-buru yang kebetulan bersebalahan meja kerja dengan Dion.

“ Ada apa ya ?” tanya Dion sedikit heran dengan verbal muka sedikit kedinginan akibat hujan yang masih turun.

“ Tidak tahu juga saya, pokoknya di jawab saja panggilannya”

Dion tidak menenteng Handphone karena sedang dicas sempurna di atas mejanya. Dion menjawab paggilan Bos dengan lantunan nada yang sejuk. Bukan sebab takut namun budbahasa rasa hormat terhadap pimpinan utamanya pada orang yang lebih bau tanah darinya.

“ Halo pak” bunyi pelan Dion.

“ Dion ! kenapa tidak jawab panggilan aku di HP mu ?” bos bertanya dengan nada yang tak sama dengan Dion.

“ HP aku sedang dicas pak di meja, saya di ruangan sebelah pak” jawab Dion dengan damai mengingat cuaca yang masih tetap cuek.

“ Minta tolong kamu ke tempat tinggal saya ya sebentar ketemu sama Ibu ?“

Perintah Bos kepada Dion untuk pergi kerumahnya berjumpa dengan Istrinya, mungkin Istrinya perlu santunan sehingga Bos yang saat itu sedang berada di luar kota secepatnya menghubunginya. Dion memang cukup erat dengan atasanya ini yang menjabat sebagai kepala ruangan. Tapi penghujung bulan ini Dion mulai merasa bosan dengan perintah-perintah Bos yang kadang tidak pernah menghiraukan kesibukannya. Apalagi perintahnya lebih mengarah di luar dari uruasan pekerjaan. Temani ngopi, jalan, makan dan lain sebagainya.

Beberapa kali di telepon bosnya dikala diluar jam kantor Dion telah tak menjawabnya mirip biasa. Rasa bosan yang mulai menumpuk memerintahkan sedikit rasa membangkang untuk hadir.

Dion yang masih berstatus bujang niscaya memerlukan ruang lebih untuk mampu nongkrong bareng sahabat-temannya atau jalan bareng perempuan yang ia dekati, paling tidak butuh waktu istirahat yang tak terhingga di hari libur kerja.

“ Disini lagi hujan pak” jawab Dion terhadap atasannya.

“ Ahh ! kamu banyak alasan ! “ bosnya seketika menetapkan pembicaraan.

Dion yang keheranan sambil tertawa dengan tingkah bosnya yang dianggap lucu. Namun sejenak Dioan berpikir dan berkata dalam hati

“ ah, biarkan saja, mungkin beliau lagi dibelai oleh sifat egois. Lagian aku juga dikala ini lagi menikmati senikmat-nikmatnya rasa jenuh, toh nanti juga akur atau paling ekstrimnya aku mungkin dipecat. Biarlah, dia ialah bos dan aku cuma atasan. Rejeki sudah ada yang mengatur kita cuma tinggal menjemputnya dengan perjuangan dan doa “

Dion termasuk karyawan yang tekun dan selalu mematuhi perintah atasanya. Namun, ia juga cuma manusia biasa yang tak luput dari kejenuhan oleh perintah-perintah yang terlalu berlebihan.

Ketika orang yang tekun mulai membangkang maka saat itulah kita mesti berintropeksi diri. Mungkin saja ada sikap yang berlebihan namun belum disadari. Intropeksi diri untuk tetap menjadi insan yang bijak alasannya sehebat-hebatnya kita, masih banyak orang yang lebih baik dan lebih hebat dari kita.
Sumber https://www.atobasahona.com/

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama